Di Balik Aura Mistis Lawang Sewu

Nia Deviyana    •    Jumat, 04 Dec 2015 19:15 WIB
wisata
Di Balik Aura Mistis Lawang Sewu
Repro foto Lawang Sewu (Foto: MI/Atet Dwi Pramadia)

Metrotvnews.com, Semarang: Bicara soal bangunan Lawang Sewu di Jalan Pemuda, Semarang, pikiran kita acapkali tertuju pada hal mistis yang menjadi citra bangunan yang dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda itu.

Hal mistis yang kerap dibicarakan mengenai Lawang Sewu, tak lain karena cerita mengenai penjara yang berada di ruang bawah tanah. Ruang yang sedang di renovasi tersebut memiliki suasana yang lembab, digenangi air, memiliki langit-langit yang rendah, dan gelap.

Namun, jika ditelusuri lebih jauh, Lawang Sewu tak hanya menyimpan aura mistis, tetapi juga memiliki keindahan yang terepresentasi dari bentuk arsitekturnya.

Tidak seperti namanya, Lawang Sewu tidaklah memiliki 1.000 daun pintu, melainkan hanya 928.

"Karena cukup repot dalam mengucapnya, maka masyarakat menyebut bangunan ini Lawang Sewu yang berarti seribu pintu," jelas Juned, pemandu wisata Semarang saat berjumpa Metrotvnews.com belum lama ini.

Banyaknya jumlah pintu dan jendela dibuat agar sirkulasi udara lancar mengingat Indonesia adalah negara beriklim tropis. Ada 5 bangunan di areal lawang sewu yang terbagi menjadi gedung A, B, C, D, dan E, dimana setiap gedung memiliki koneksi untuk keamanan.

Masuk ke gedung utama, kita akan disuguhi 4 kaca patri indah di atas sebuah tangga. Kaca tersebut bergambar relief buatan seniman Belanda  bernama J.L. Schouten.

Adapun makna relief tersebut, dijelaskan sebagai berikut:

Kaca bagian tengah atas menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang kaya. Semua kekayaan itu diklaim menjadi milik Belanda dan diangkut lewat pelabuhan besar di Batavia, Semarang dan Surabaya.

Belanda yakin kekayaan Indonesia tak akan pernah habis, hal itu tergambar dari simbol Dewi Fortuna yang berada di bagian tengah bawah. Beberapa pendapat juga menilai, sosok Dewi Fortuna atau dewi keberuntungan yang tergambar pada relief kaca ini memiliki makna bahwa pemerintahan Hindia Belanda selalu diberkahi dengan keberuntungan

Di sisi samping, panel kaca bagian kanan menggambarkan Semarang dan Batavia sebagai pusat perdagaangan laut yang besar. Pada gambar ini, Belanda seolah ingin menceritakan bahwa kota dagang besar itu berada dalam naungannya.

Kekayaan Indonesia dipasok ke kota dagang besar di Belanda seperti Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag yang disimbolkan dalam panel kaca di bagian kiri.


Ornamen kaca patri di Lawang Sewu (Foto: Antara/Idhad Zakaria)



Selalu Sejuk

Bangunan Lawang Sewu terasa selalu sejuk, lagi-lagi, banyak yang mengaitkan hal ini dengan kisah misteri. Padahal dijelaskan Juned, bangunan Lawang Sewu dibangun tanpa menggunakan semen.

"Kalau di sini (Semarang) orang menyebutnya blingor, yaitu campuran pasir, kapur dan batu bata merah," terangnya.

Pembangunan dengan Blingor rupanya memiliki kelebihan tersendiri, diantaranya tidak mudah retak dan lebih mudah menyerap air sehingga udara di dalamnya terasa sejuk.

Pengecualian untuk gedung E dimana konstruksi bangunan dibuat dengan bahan lokal. Pada 1916, Perang Dunia I tengah meletus di Eropa sehingga pengiriman barang dari Belanda menjadi terhambat.




Repro foto kereta api di Stasiun Lawang Sewu (Foto: MI/Atet Dwi Pramadia)



Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Lawang Sewu atau gedung seribu pintu dibangun pada masa pemerintahan Belanda pada 1904, dan selesai pada 1907. Gedung ini dibangun oleh perusahaan swasta Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) sebagai perusahaan kereta api pertama di Hindia Belanda yang menghubungkan Semarang dengan 'Vorstenlanden' (Surakarta dan Yogyakarta). Jalur pertama yang dibuat adalah Semarang-Tanggung pada 1867.

Di Lawang Sewu, kita bisa melihat sejarah tentang perkeretaapian Indonesia yang terpajang di galeri.

Pada zaman Jepang, bangunan ini dijadikan Riyuku Sokyuku (jawatan transportasi Jepang) dan markas militer Kempetai dan Kidobutai. Bangunan ini juga menjadi saksi bisu Pertempuran Lima Hari antara Angkatan Muda Kereta Api melawan Jepang, 15-19 Oktober 1945.

Sebagai wujud tanda jasa, dibangun Tugu Muda di depan persis bangunan Lawang sewu. Tak ketinggalan, sebuah makam penanda dibuat di areal Lawang Sewu untuk mengabadikan nama pahlawan yang gugur dalam pertempuran itu.



Salah satu sudut Lawang Sewu (Foto: MTVN/Nia Deviyana)

ASA