MKD Dinilai Belum Sentuh Persoalan Utama

Dheri Agriesta    •    Jumat, 04 Dec 2015 22:30 WIB
pencatut nama presiden
MKD Dinilai Belum Sentuh Persoalan Utama
Pengamat LIPI Ikrar Nusa Bhakti (kanan) dan Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR-RI Zainud Tauhid Saadi memberikan pendapat dalam dialog MPR-RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (23/3). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay.

Metrotvnews.com, Jakarta: Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menilai Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memperlakukan saksi dan pelapor bagaikan seorang tersangka. Tak hanya itu, MKD juga tak pernah masuk ke persoalan utama kasus itu.

"Mengapa MKD tak masuk ke persoalan utama, tapi mempersoalkan mengapa dilaporkan ke MKD, motif pelaporan, dan lainnya," kata Ikrar di Restoran Pulau Dua, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (4/12/2015).

MKD telah menggelar sidang pelanggar etik yang diduga dilakukan Ketua DPR Setya Novanto selama dua hari terakhir. MKD menghadirkan Menteri ESDM Sudirman Said selaku pelapor terkait dugaan pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden yang dilakukan Setya Novanto untuk memuluskan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia.

Sudirman membawa bukti berupa rekaman pembicaraan antara Setya Novanto, pengusaha Muhammad Riza Chalid, dan Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Percakapan itu pun diperdengarkan di dalam sidang MKD.

MKD bahkan memanggil Maroef Sjamsoeddin sebagai saksi. Maroef yang berinisiatif untuk merekam percakapan tiga tokoh itu dianggap menjadi kunci kasus ini. Namun, alih-alih memperlakukan Maroef sebagai saksi, sebagian anggota MKD dinilai menyudutkan Maroef.

"Sebagian besar justru menyudutkan Maroef Sjamsoeddin," kata Ikrar.

Ikrar ragu kasus ini akan selesai sebagaimana mestinya. Ia khawatir, Setya Novanto justru dianggap tak melakukan pelanggaran etik berat saat pemungutan suara. "Jikalau MKD gagal, berarti negara kalah dari mafia," pungkas Ikrar.


(OGI)