Melihat Keterikatan Sejarah, Air, dan Gender dalam Jakarta Biennale 2015

Putu Radar Bahurekso    •    Sabtu, 05 Dec 2015 11:58 WIB
kultur
Melihat Keterikatan Sejarah, Air, dan Gender dalam Jakarta Biennale 2015
Salah satu instalasi seni di Jakarta Biennale 2015 (Foto: MTVN/Putu Radar B)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada 2015, Jakarta Biennale ke-16 kembali hadir memeriahkan kota Jakarta dengan tema “Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang”. Tema tersebut diangkat sebagai sebuah tinjauan atas masa kini, tanpa terjebak dalam nostalgia akan masa lalu dan utopia masa mendatang.
 
Jakarta Biennale kali ini mengangkat topik Sejarah, Air, dan Gender sebagai bahasan isu yang diangkat dalam setiap karyanya. Dengan tema yang mengusungkan kekinian ketiga topik tersebut pun dilihat dari sudut pandang kekinian dan bagaimana ketiga isu tersebut saling terikat.
 
“Setiap topik ini tentunya pasti memiliki keterikatan ya, mereka bisa berdiri sendiri-sendiri tapi juga saling terikat. Ketiga topik ini juga diangkat karena kita ingin ngangkat topik yang dekat dengan masyarakat dan ga ngawang-ngawang,” ujar Irma Chantily, kurator muda Jakarta Biennale saat diwawancara di gudang Sarinah baru-baru ini.
 
Sejarah, Air, dan Gender adalah tiga hal yang berkaitan antar satu dengan yang lainnya. Bagaimana peran gender tertentu terbentuk merupakan hasil konstruksi sejarah, bagaimana sejarah peradaban manusia dimulai karena sumber air, dan bagaimana pekerjaan air dikaitkan dengan gender tertentu. Tiga hal tersebut merupakan contoh sederhana bagaimana setiap topik tersebut berhubungan.
 
Sejarah adalah sebuah kejadian masa lalu, di mana sejarah seharusnya menjadi hal yang tidak hanya terjadi begitu saja tapi juga bisa menjadi pelajaran bagi setiap manusia, termasuk dalam urusan air dan gender.

Karya-karya yang ditampilkan dalam Jakarta Biennale 2015 ini ingin membicarakan, mengupas, dan melihat bagaimana ketiga tema ini merupakan hal penting yang harus dibahas dan melihat bagaimana situasi yang terjaadi dalam bahasan tema-tema tersebut.
 
Sejarah dan Air
 
Air merupakan hal yang sangat penting dalam hidup manusia, tidak hanya manusia membutuhkan minum tapi juga bagaimana peradaban manusia muncul dan hidup dekat sumber air.
 
“Air tentunya penting untuk diangkat, air adalah hal yang sangat penting bagi hidup manusia. Bahkan manusia bisa lebih cepet mati kalau ga minum dibanding ga makan,” ujar Anwar ‘Jimpe’ Rachman, kurator muda Jakarta Biennale 2015.
 
Dalam perjalanan sejarah sudah mulai terlihat bagaimana air yang sedikit demi sedikit mulai tercemar mengancam keberadaan air bersih sebagai sumber hidup umat manusia. Air bukanlah sebuah permasalahan suatu rentang waktu tertentu ataupun sekelompok orang.
 
“Air adalah kebutuhan kita sehari-hari, dan isunya itu tidak terbatas disatu tempat saja tapi juga di berbagai tempat. Air juga adalah isu lingkungan hidup, dan hidup orang dimana-mana berhubungan dengan air. Jadi air memengaruhi urusan hidup orang banyak,” lanjut Jimpe.
 
Gender dan Air
 
Gender dan air memiliki hubungan dalam sebuah peran yang terbentuk antar laki-laki dan perempuan terutama dalam urusan rumah tangga. Peran yang ada dalam rumah tangga membuat perempuan dekat dengan pekerjaan air.
 
“Hubungan perempuan dengan air itu misalnya ada dalam peran di rumah tangga. Yang lebih dekat dengan pekerjaan seperti mencuci siapa? Ibu kan?” jelas Irma Chantily.
 
Tidak hanya dalam rumah tangga tapi bagaimana air dan gender juga melihat kehidupan yang dirasakan oleh kaum buruh cuci yang dimana sebagian besar diisi oleh perempuan.
 
 
Konstruksi Sejarah Akan Gender
 
Peran yang dilakukan dalam gender tertentu adalah hasil bentukan konstruksi sejarah. Bagaimana perempuan diam di rumah dan laki-laki bekerja, bagaimana perempuan mengurus rumah dan anak dan pria mencari nafkah.
 
Konstruksi peran dan pola pikir tersebut terjadi berulang-ulang dalam perjalanan sejarah dimana akhirnya banyak orang yang berpikir dan masih menerapkan hal tersebut.
 
“Kalau kita lihat peran gender tertentu itukan hasil dari konstruksi sejarah yang sudah terjadi dari masa lampau. Terjadi berulang-ulang hingga terbentuk peran-peran tertentu yang katanya harus dilakukan oleh gender tertentu,” ucap Irma Chantily.
 
Namun seiring perjalanannya, semakin banyak perjuangan dalam menyetarakan peran gender. Meskipun masih cukup banyak terjadi hal-hal yang masih dilebeli untuk gender tertentu.
 
“Saya selalu percaya sama yang namanya kemenangan-kemenangan kecil. Meskipun di banyak tempat masih banyak diskriminasi terhadap gender tertentu tapi kalau kita lihat sudah mulai banyak muncul perjuangan-perjuangan untuk menyetarakan peran gender,” pungkas Irma.

ASA