Pimpinan KPK akan 'Rayu' Kejagung untuk Novel

Yogi Bayu Aji    •    Selasa, 08 Dec 2015 21:46 WIB
novel baswedan
Pimpinan KPK akan 'Rayu' Kejagung untuk Novel
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan meninggalkan gedung KPK, Jakarta, Jumat (4/12). ANTARA FOTO/Reno Esnir.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi akan 'merayu' Kejaksaan Agung. Tujuannya, agar kasus dugaan penganiayaan yang menjerat Penyidik KPK Novel Baswedan bisa dihentikan.

"Pimpinan akan berkoordinasi dengan kejaksaan," kata Pelaksana Tugas Wakil Ketua KPK Johan Budi di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (8/12/2015).

Dia menjelaskan, sejatinya pimpinan KPK sudah mengupayakan kepada Mabes Polri agar kasus ini dihentikan. Namun, Polri tak mau menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3).

Namun, kata dia, lantaran penyidikan sudah selesai dan berkas akan dilimpahkan ke Kejaksaan alias P21, SP3 tak bisa dilimpahkan. "Kalau dari ceritanya itu. Nanti tinggal bagaimana pimpinan berkoordinasi dengan kejaksaan,"  jelas Johan.

Kamis 3 Desember kemarin, Novel Baswedan memenuhi panggilan Bareskrim Polri. Dia rencananya akan dilimpahkan dari kepolisian ke kejaksaan lantaran berkas perkara sudah lengkap alias P21.

Bareskrim pun membawa Novel ke Kejaksaan Agung. Kemudian, Adik sepupu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan itu  diterbangkan ke Bengkulu dan dibawa ke Polda setempat.

Dia mengaku sempat akan ditahan di Polda Bengkulu dan baru dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Bengkulu pada Jumat 4 Desember. Namun, baik penahanan serta pelimpahan dibatalkan dan Novel pun diterbangkan kembali ke Jakarta pada Jumat pagi.

Namun, Novel Baswedan kembali dipanggil Polda Bengkulu pada Kamis 10 Desember. Dia pun akan memenuhi panggilan tersebut.

Novel diketahui disangka melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan luka berat seseorang di Pantai Panjang Ujung, Kota Bengkulu. Kasus itu dilaporkan pada 18 Februari 2004 oleh Brigadir (Pol) Yogi Haryanto.

Dia dituduh melakukan penembakan terhadap enam pelaku pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada 2004. Penembakan yang dilakukan oleh anak buah Novel itu diduga mengakibatkan kematian seorang pelaku bernama Mulia Johani, alias Aan.

Novel yang saat itu menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu dianggap bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Akhirnya, Novel menjalani pemeriksaan kode etik di Mapolres Bengkulu dan Polda Bengkulu.

Sanksi teguran dijatuhkan sebagai pelanggaran kode etik atas perbuatan anak buahnya. Namun, setelah insiden itu, Novel masih dipercaya sebagai Kasat Reskrim di Polres Bengkulu hingga Oktober 2005.

Kasus ini meledak ketika dia selaku penyidik KPK mendalami Irjen Djoko Susilo yang ditetapkan sebagai tersangka kasus simulator SIM. Kepolisian bahkan sempat berupaya menangkapnya pada 2012 saat berada di gedung KPK namun batal.

Sempat mereda, kasus itu kembali berhembus ketika KPK berseteru dengan kepolisian di 2015. Novel sempat ditangkap pada Jumat 1 Mei dini hari di kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, karena dinilai tidak memenuhi panggilan pertama dan kedua polisi.

Menghadapi perkara ini, Novel pernah mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, permohonannya ditolak hakim yang menganggap sah penangkapan dan penahanan terhadap Novel.


(AZF)

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

17 hours Ago

Politikus Hanura Miryam S Haryani mengaku mencabut seluruh isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) d…

BERITA LAINNYA