Potensi Raup Rp215 Triliun, BKPM Dorong Industri Farmasi

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 09 Dec 2015 11:52 WIB
industri farmasibkpm
Potensi Raup Rp215 Triliun, BKPM Dorong Industri Farmasi
Ilustrasi industri farmasi. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan membangun stakeholder terkait untuk mendorong pengembangan investasi industri farmasi Indonesia dengan mengutamakan kemandirian obat, substitusi impor, dan peningkatan ekspor serta penguasaan teknologi.

Dengan demikian, sektor farmasi dalam negeri termasuk obat dan bahan bakunya bisa berkembang. Sehingga impor bahan baku obat yang selama ini membuat harga obat di dalam negeri tinggi bisa dikurangi.

Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan BKPM siap mendukung komitmen berbagai pihak untuk mendorong transformasi industri farmasi Indonesia dari yang hanya memproduksi obat menjadi riset pengembangan obat dan memproduksi bahan baku obat.

Dia optimistis hal tersebut dapat dilakukan merujuk data Gabungan Produsen Farmasi (GP Farmasi) bahwa proyeksi investasi di sektor farmasi Indonesia untuk 2015-2025 diperkirakan akan mencapai Rp215 triliun. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan potensi sektor farmasi Indonesia di 2025 mencapai Rp700 triliun yang terdiri dari pasar domestik sebesar Rp450 triliun dan pasar ekspor Rp250 triliun.

"Dalam pertemuan disebutkan bahwa total investasi industri farmasi Indonesia 2015-2025 akan mencapai angka Rp215 triliun dengan rencana penyerapan tenaga kerja mencapai dua juta lapangan kerja. Minat investasi yang sudah disampaikan ke BKPM untuk sektor farmasi cukup banyak. Tinggal bagaimana seluruh stakeholder bersinergi kembangkan ekosistem usaha sektor farmasi," kata Franky, dalam keterangan tertulisnya,‎ Rabu (9/12/2015).

Menurut Franky, dalam beberapa bulan terakhir, dirinya telah bertemu langsung dengan investor-investor asing yang menyampaikan minat investasinya di bidang industri farmasi di Indonesia.

"Yang terakhir adalah minat investasi dari Singapura. Sebelumnya, dalam kunjungan bersama dengan Presiden di Amerika Serikat, perusahaan farmasi AS juga berminat untuk masuk ke sektor ini," ungkap dia.

Daya tarik investasi industri farmasi Indonesia terletak pada tiga bagian penting yakni pasar farmasi terbesar di ASEAN, implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan posisi Indonesia yang sudah tergabung dalam negara-negara PIC/S atau negara dengan standar kualitas farmasi internasional.

Langkah pengembangan investasi sektor farmasi lainnya, menurut Franky, adalah penyusunan Panduan Investasi sektor tersebut. BKPM dalam pembahasan revisi panduan investasi menerima usulan untuk membuka batas kepemilikan asing lebih luas di bidang usaha industri bahan baku obat dan industri obat jadi  yang saat ini maksimal 85 persen asing menjadi 100 persen asing.

"Pembahasan yang dilakukan dalam koridor apakah menahan 15 persen saham kepemilikan di pengusaha nasional dapat mendorong terjadi transfer teknologi, atau justru dengan membuka lebih lebar dapat mendorong minat perusahaan farmasi untuk mendirikan riset pengembangan obatnya di Indonesia," jelas dia.

Sebelumnya diberitakan bahwa kunjungan kerja Kepala BKPM ke Singapura akhir pekan lalu berhasil mengantongi minat investasi USD165 juta. Minat investasi tersebut berasal dari dua sektor yakni telekomunikasi sebesar USD150 juta dan farmasi sebesar USD15 juta. Investor Singapura di bidang farmasi tersebut akan diarahkan untuk memanfaatkan layanan izin investasi tiga jam di BKPM.


(AHL)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA