Keterangan Zul, Saksi Pembunuhan Fakih

Ilham wibowo    •    Rabu, 09 Dec 2015 18:36 WIB
kasus pembunuhan
Keterangan Zul, Saksi Pembunuhan Fakih
Ilustrasi. Antara Foto/Rony Muharrman

Metrotvnews.com, Jakarta: Zul Alvian, 14, melihat Abdul Fakih, 13, dikeroyok sekelompok orang tak dikenal, Sabtu 5 Desember. Fakih bersimbah darah setelah ditusuk di bagian punggung hingga menembus paru.

Malam akhir pekan itu, Fakih bersama teman-temannya di SMPN 254 Jakarta, menonton konser musik reggae di kawasan Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Acara ini digelar berkaitan dengan Hari Aids Internasional.

Saat konser masih berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB, Fakih dan teman-teman pulang. Sebab, menurut Zul, mereka datang ke konser itu hanya untuk menyaksikan penampilan band Kopi Kentrunk.

"Biasanya konser selesai jam 12 malam. Kemarin kami hanya sekitar tiga jam, lalu pulang," kata Zul kepada Metrotvnews.com, Rabu (9/12/2015)

Zul mengatakan, rombongan yang berjumlah 15 orang itu pulang dengan menyewa mobil angkutan umum M17. Sebanyak 10 orang duduk di dalam, sisanya di atap mobil.

Zul dari awal seolah mempunyai firasat akan terjadi hal buruk saat perjalanan pulang. Sebab, keributan seusai konser musik reggae sudah berulang kali. Zul mengendarai sepeda motor mengawal perjalanan pulang.

"Saya di depan mantau takut ada yang menyerang," ujar dia.

Benar saja, saat mobil melintas di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, orang tak dikenal menyerang dari belakang.
Zul dan teman-teman tidak bisa berbuat apa-apa karena lawan mengayunkan senjata tajam.

"Fakih posisinya menggantung di pintu mobil. Satu orang menghampiri mobil. Fakih kena bacok," cerita Zul.

Zul dan rombongan panik melihat Fakih bersimbah darah. Beberapa orang membawanya ke Rumah Sakit Marinir di Cilandak. Ada juga yang menghubungi keluarga Fakih.

Fakih sempat dirujuk ke Rumah Sakit Fatmawati untuk  tindakan operasi. Namun, nyawa warga Jalan Mochammad Kahfi I, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu tak tertolong.

Zul heran mengapa pelaku begitu tega membabi buta menganiaya Fakih. Ia juga merasa tak punya musuh. Saat kejadian, dia ingat satu di antara yang mengeroyok Fakih menggunakan pakaian bertuliskan MPCR.


(TRK)