Kejaksaan Dapat Titik Terang dari Keterangan Maroef Sjamsoeddin

Adhi M Daryono    •    Rabu, 09 Dec 2015 20:23 WIB
pencatut nama presiden
Kejaksaan Dapat Titik Terang dari Keterangan Maroef Sjamsoeddin
Kejaksaan Agung. Foto: M Irfan/MI

Metrotvnews.com, Jakarta: Kejaksaan Agung mulai mendapatkan titik terang dalam penyelidikan kasus dugaan pemufakatan jahat yang menyeret Ketua DPR Setya Novanto. Titik terang berasal dari keterangan Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin yang diperiksa penyidik Kejagung pada Selasa 8 Desember selama sembilan jam. 

Hal itu dikatakan oleh Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung Arminsyah. "Kuncinya kita sudah dapat keterangan Maroef Sjamsoeddin," ujar Arminsyah saat dihubungi, Rabu (9/12/2015).

Menurut Arminsyah, pihaknya masih perlu mengevaluasi terkait rekaman percakapan antara Novanto dengan pengusaha Riza Chalid dan Maroef.

"Kita lagi mendalami keterangan Pak Maroef. Kita meyakini betul rekaman tersebut direkam oleh Pak Maroef. Dengan didengar kembali dia ikut di situ. Jadi dia mencermati betul," papar Armin.

Kejagung kini membutuhkan keterangan Setya Novanto dan pengusaha minyak Riza Chalid. Dua orang yang diduga terlibat dalam percakapan itu diupayakan untuk dihadirkan dalam pemeriksaan.  

"Ada beberapa yang belum dimintai keterangan, seperti Riza, kemudian perlu apa tidaknya Setya Novanto nanti akan kita kaji. Kemudian periksa staf Maroef dan staf Setya Novanto," tandas Arminsyah.

Riza sedianya diperiksa awal pekan ini. Tapi dia mangkir. Kementerian Hukum dan HAM mengungkap Riza sudah berada di luar negeri sejak lima hari lalu.

Kasus yang belakangan tenar dengan sebutan `Papa Minta Saham` ini meledak lewat kicauan Menteri ESDM Sudirman Said. Dia menyebut politikus DPR, belakangan diketahui Ketua DPR Setya Novanto, nekat menjual nama presiden dan wapres saat berbincang dengan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

Menteri Sudirman mengantongi bukti rekaman perbincangan mereka. Terlibat aktif pula dalam rekaman obrolan itu Riza Chalid. Novanto dan Riza saling tik-tok untuk meyakinkan Maroef bahwa proses kontrak karya PT Freeport Indonesia bisa aman di tangan mereka.

Selain menjual nama presiden dan wapres, Novanto dan Riza juga puluhan kali mencatut nama Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan. Juga belasan tokoh lainnya, seperti Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, dan Wiranto.

Adalah Maroef yang diam-diam merekam `jualan` Novanto dan Riza. Bukti rekamanan utuh sudah diperdengarkan di Majelis Mahkamah Dewan (MKD), sementara ponsel yang digunakan untuk mereka kini ada di tangan Kejaksaan Agung.

Kejagung terhitung sudah empat kali bolak-balik meminta keterangan Maroef untuk mengungkap dugaan pemufakatan Novanto dan Riza. Menteri Sudirman baru sekali diperiksa, tapi berkomitmen siap kapan pun kalau diminta kembali ke Gedung Bundar.

Ini merupakan sinyal buruk buat Novanto dan Riza. Kalau terbukti, keduanya terancam dijerat Pasal 15 UU Tindak Pidana Korupsi No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal itu berbunyi, "Setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan, atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi dipidana yang sama sebagaimana dimaksud Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5."

Presiden pun gusar, bahkan marah, namanya dibawa-bawa untuk `mengemis` 20 persen saham PT Freeport Indonesia. 


(KRI)

Opsi: Setnov Bicaralah! (4)

Opsi: Setnov Bicaralah! (4)

8 minutes Ago

Peradilan Setya Novanto ibarat drama hukum. Persidangan sempat diwarnai aksi bisu Setnov. Duduk…

BERITA LAINNYA