Bank Sentral Selandia Baru Pangkas Suku Bunga Jadi 2,5%

   •    Kamis, 10 Dec 2015 09:07 WIB
ekonomi eropa
Bank Sentral Selandia Baru Pangkas Suku Bunga Jadi 2,5%
Ilustrasi. (FOTO: Reuters)

Metrotvnews.com, Wellington: Bank sentral Selandia Baru memangkas tingkat suku bunga utamanya (official cash rate) sebesar 25 basis poin menjadi 2,5 persen. Pemangkasan ini mengutip kekhawatiran atas pertumbuhan di dalam negeri dan luar negeri.

Xinhua melansir, sebagaimana dikutip dari Antara, Kamis, 10 Desember, secara global, pertumbuhan ekonomi di bawah rata-rata dan inflasi rendah, meskipun kondisi moneter sangat merangsang (stimulatory).

Gubernur Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) Graeme Wheeler mengatakan pasar keuangan tetap khawatir tentang pertumbuhan lemah di negara-negara berkembang, terutama di Tiongkok, sementara memperkirakan pengetatan kebijakan di Amerika Serikat.

"Pertumbuhan ekonomi Selandia Baru telah melemah selama 2015, terutama karena segi perdagangan lebih rendah. Dikombinasikan dengan peningkatan pasokan tenaga kerja dari imigrasi bersih yang kuat, pelambatan telah terlihat meningkat dalam kapasitas cadangan dan pengangguran," jelas Wheeler.

"Sebuah pemulihan dalam harga-harga ekspor, baru-baru ini mengangkat keyakinan, dan meningkatnya permintaan domestik dari populasi yang meningkat diharapkan melihat pertumbuhan menguat selama tahun mendatang," tuturnya.

Namun, kenaikan dolar Selandia Baru sejak Agustus tidak membantu dan selanjutnya depresiasi lebih lanjut akan sesuai untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Inflasi harga rumah di kota terbesar Auckland, tempat tinggal bagi sepertiga penduduk, tetap tinggi, sehingga memunculkan risiko stabilitas keuangan. Tetapi ada tanda-tanda awal mungkin akan moderat. Inflasi harga konsumen berada di bawah target RBNZ di kisaran 1-3 persen, namun diperkirakan bergerak dalam kisaran target mulai awal 2016.

Ada sejumlah ketidakpastian dan risiko untuk prospek, termasuk risiko bahwa harga susu tetap lemah lebih lama, prospek imigrasi bersih tetap tinggi untuk waktu lebih lama dan pengeluaran rumah tangga meningkat didorong harga rumah yang kuat.

"Kebijakan moneter harus akomodatif untuk membantu memastikan bahwa rata-rata inflasi mendatang mengendap dekat tengah kisaran target. Kami berharap mencapai ini pada pengaturan tingkat suku bunga saat ini, meskipun bank akan mengurangi suku bunga jika keadaan menjamin," pungkas Wheeler.


(AHL)