Sarifuddin Sudding: Kasus Novanto Tak Perlu Dibuat Sulit

Astri Novaria    •    Kamis, 10 Dec 2015 15:47 WIB
pencatut nama presiden
Sarifuddin Sudding: Kasus Novanto Tak Perlu Dibuat Sulit
Sarifuddin Sudding (kiri). Foto: Reno Esnir/Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR Sarifuddin Sudding menilai ada upaya mengulur-ulur waktu dalam penanganan kasus dugaan pelanggaran etik yang dilakukan Ketua DPR RI Setya Novanto di MKD. Dia khawatir MKD justru kalah cepat mengambil langkah dengan Kejaksaan Agung.

"Bagaimana nanti malunya MKD kalau Kejaksaan duluan yang tiba-tiba menetapkan Novanto sebagai tersangka?" ujar Sudding di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Sudding menjelaskan, upaya mengulur-ulur waktu ini tampak dari sejumlah anggota MKD yang meminta agar rekaman percakapan antara Novanto, pengusaha minyak Riza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, diperiksa terlebih dahulu di laboratorium forensik Mabes Polri

"Menurut saya tidak perlu audit forensik. Bagi saya ini sudah terang benderang. Rekaman berbeda dengan sadapan. Sepanjang orang yang merekam mengakui rekaman itu, maka itu bisa jadi alat bukti," tegasnya.

Menurut politikus Hanura itu persidangan kasus Novanto tidak perlu dibuat sulit. Sebab, MKD tidak memproses pembuktian hukum. Novanto, kata Sudding, mengakui pertemuan pertama berlangsung selama 90 menit, dimana Maroef berkeluh kesah mengenai Freeport terkait kontrak karya. 

Novanto tidak mengakui isi rekamkan. Sudding beranggapan kasus dugaan pelanggaran etik Novanto sudah terang benderang.

"Ini terang benderang. Iyalah (ada pelanggaran). Sebatas ingin membuktikan adanya pertemuan. Novanto kan sudah mengakui adanya pertemuan pertama dengan Maroef. Mencermati kesaksian Novanto, ia keberatan rekaman tanpa seizin dia. Tapi tidak menyanggah pertemuan itu. Itu bukti petunjuk adanya pertemuan itu," tandasnya.

Mengenai jenis hukuman, Sudding enggan mengungkapkan pilihannya. Ia menegaskan rumusan putusan yang ia buat akan dibacakan saat sidang putusan.

Seperti diketahui, Novanto terseret kasus pencatutan nama presiden dan wakil presiden. Dia kini tengah diproses di MKD sebagai teradu. Novanto diadukan Sudirman Said yang mengungkap kasus ini pertama kali.  

Kasus yang belakangan tenar dengan sebutan `Papa Minta Saham` ini meledak lewat kicauan Menteri ESDM Sudirman Said. Dia menyebut politikus DPR, belakangan diketahui Ketua DPR Setya Novanto, nekat menjual nama presiden dan wapres saat berbincang dengan Presdir PT Freeport Maroef Sjamsoeddin.


(KRI)