Harga Diri Luhut Akhirnya Terusik Kasus Novanto

Eko Frima Andani    •    Kamis, 10 Dec 2015 16:52 WIB
pencatut nama presiden
Harga Diri Luhut Akhirnya Terusik Kasus Novanto
Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan.MI/Panca Syurkani

Metrotvnews.com, Bandung: Lama tak mau terjebak pusaran kasus `Papa Minta Saham`, akhirnya Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan mau mengakui kalau dirinya pun terusik. Dan, dia hendak menyerang balik.

"Harga diri saya dan keluarga terganggu," kata Luhut di Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/12/2015).

Luhut menantang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memberikan ruang klarifikasi buat dirinya. Kalau tidak, menurut dia, apa boleh buat, dirinya akan menggelar konfrensi pers terbuka. Luhut akan menjelaskan semuanya kepada publik.

Luhut mengaku, selama ini sengaja menahan diri untuk tidak bersuara. Tapi sekarang, cukup.

"Beri saya waktu. Saya tegaskan, saya tidak pernah setuju dengan perpanjangan (kontrak karya) PT Freeport Indonesia," Luhut masih mencoba bersuara kalem.

Lantas, apakah Luhut merasa difitnah? "Saya tidak mau ulangi lagi."

Kasus yang belakangan tenar dengan sebutan `Papa Minta Saham` ini meledak lewat kicauan Menteri ESDM Sudirman Said. Dia menyebut politikus DPR, akhirnya diketahui Setya Novanto, nekat menjual nama presiden dan wapres saat berbincang dengan Presdir PT Freeport Maroef Sjamsoeddin.

Menteri Sudirman mengantongi bukti rekaman perbincangan mereka. Terlibat aktif pula dalam rekaman obrolan itu Riza Chalid. Novanto dan Riza saling tik-tok untuk meyakinkan Maroef bahwa proses kontrak karya PT Freeport bisa aman di tangan mereka.

Selain menjual nama presiden dan wapres, Novanto dan Riza juga puluhan kali mencatut nama Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan. Juga belasan tokoh lainnya, seperti Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, dan Wiranto.

Novanto dan Riza secara bergantian sampai 66 kali menyebut nama Luhut. Pada satu kesempatan, Riza bahkan sempat mengatakan, "Pak, kalau gua, gua bakal ngomong ke Pak Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil, kalau enggak ribut."

Adalah Maroef yang diam-diam merekam `jualan` Novanto dan Riza. Bukti rekamanan utuh sudah diperdengarkan di Majelis Mahkamah Dewan (MKD), sementara handphone yang digunakan untuk merekam kini ada di tangan Kejaksaan Agung.

Kejagung terhitung sudah empat kali bolak-balik meminta keterangan Maroef untuk mengungkap dugaan pemufakatan jahat Novanto dan Riza. Menteri Sudirman baru sekali diperiksa, tapi berkomitmen siap kapan pun kalau diminta kembali ke Gedung Bundar.

Ini jelas sinyal gawat buat Novanto dan Riza. Kalau terbukti, keduanya terancam dijerat Pasal 15 UU Tindak Pidana Korupsi No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal itu berbunyi, "Setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan, atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi dipidana yang sama sebagaimana dimaksud Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5."

Presiden pun gusar, bahkan marah, namanya dibawa-bawa untuk `mengemis` 20 persen saham PT Freeport. Menurut Presiden, ini menyangkut wibawa negara.


(ICH)