Fokus pada Lima Pilar Strategis, Pertamina Berhasil Hadapi Tantangan

Ade Hapsari Lestarini    •    Minggu, 13 Dec 2015 15:32 WIB
pertamina
Fokus pada Lima Pilar Strategis, Pertamina Berhasil Hadapi Tantangan
Salah satu pencapaian domestik Pertamina dalam lima pilar prioritas strategis yakni mengelola blok Mahakam mulai 1 Januari 2018. (FOTO: Antara/Hermanus Prihatna)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Pertamina (Persero) terus fokus dalam mengimplementasikan lima Pilar Prioritas Strategis. Kendati perusahaan BUMN ini ditempa tantangan berat industri minyak dan gas (migas) global yang terus berlanjut. Tak mau berdiam diri, dengan percaya diri Pertamina menghadapi tantangan yang juga dihadapi perusahaan migas di Tanah Air. Harga minyak yang melemah drastis, rupiah yang terus tertekan di kuartal III-2015 memang berdampak cukup besar ke perusahaan.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto sempat mengatakan, tantangan berat di industri migas masih akan terus berlanjut karena masih relatif rendahnya harga minyak mentah dunia. Namun demikian, Pertamina terus fokus mengimplementasikan lima pilar strategis prioritas perusahaan.

"Implementasi 5 pilar strategi prioritas secara konsisten cukup membuahkan hasil kendati situasi eksternal perusahaan saat ini tidak dalam kondisi yang tidak begitu baik," papar Dwi.

Menurut dia, hingga kuartal III-2015, Pertamina bersyukur dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut sehingga kinerja perusahaan cukup baik dan sehat di mana EBITDA margin perusahaan berada pada tren positif yakni USD3,55 miliar, pendapatan USD32 miliar, dan laba bersih sampai dengan akhir September 2015 mencapai USD914 juta.

Dalam lima pilar strategis, pencapaian domestik Pertamina dalam mengembangkan sektor hulu antara lain mengakuisisi 100 persen blok NSO & NSB di 2015 dan mengelola blok Mahakam mulai 1 Januari 2018. Di luar negeri, Pertamina berhasil melakukan ekspansi dan pengembangan di blok-blok migas di Iraq, Aljazair, dan Malaysia melalui anak usaha Pertamina International Exploration & Production.

Tak hanya itu, pencapaian kinerja Pertamina sampai dengan kuartal III-2015 cukup memuaskan. Di mana untuk capaian operasional telah merealisasikan produksi minyak dan gas bumi selama sembilan bulan pertama 2015 naik 11 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2014. Selanjutnya, produksi migas ytd sampai dengan kuartal III-2014 sebesar 519,65 MBOEPD, sedangkan realisasi sampai dengan kuartal III-2015 sebesar 575,02 MBOPD.

Selain itu, Pertamina juga terus melakukan efisiensi sebagai manifestasi lima Pilar Prioritas Strategis perusahaan. Efisiensi tersebut terdiri dari dua hal, yaitu efisiensi pada biaya operasi dan efisiensi yang timbul dari pelaksanaan Breakthrough Project 2015.

Adapun untuk efisiensi biaya operasi, saat ini telah mencapai USD1,15 miliar atau masih on track sesuai target perusahaan untuk melakukan efisiensi sekitar 35 persen dari biaya operasi. Sedangkan dampak finansial yang ditimbulkan dari pelaksanaan Breakthrough Project 2015 telah mencapai USD430,77 juta atau 119 persen terhadap target periode berjalan.

Selanjutnya, sentralisasi pengadaan nonhidrokarbon telah menyumbang efisiensi sebesar USD89,55 juta, sentralisasi pengadaan hidrokarbon di ISC sebesar USD103 juta, dan cash management sebesar USD20,45 juta. Efisiensi terbesar adalah berasal dari upaya insan Pertamina melakukan tata kelola secara ketat pada arus minyak yang menyumbang efisiensi sebesar USD209,97 juta.

Dwi mengungkapkan, Pertamina terus berinvestasi dengan realisasi hingga akhir September 2015 sebesar USD2,5 miliar di mana 78 persen diantaranya adalah investasi hulu migas. Besaran investasi terbesar kedua adalah di sektor pemasaran sekitar sembilan persen yang digunakan untuk pengembangan storage.

Kemudian, bisnis gas dan EBT berkontribusi sekitar 7,4 persen yang dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur gas di Tanah Air. Pertamina membangun pipa transmisi gas Belawan-Kawasan Industri Medan-Kawasan Ekonomi Khusus, Semarang-Gresik, Muara Karang-Muara Tawar-Tegalgede, Porong-Grati, yang kesemuanya ditargetkan selesai di 2016. Pertamina juga mendukung kebijakan pemerintah dalam  mewujudkan gas kota dengan membangun Stasiun Pengisian bahan bakar Gas (SPBG) dan Mobile Refueling Unit (MRU).

Untuk mendukung terwujudnya kemandirian energi, Pertamina memperkuat sektor midstream dan mainstream. Di midstream, pengoperasian RFCC dan kilang TPPI akan menambah produksi premium dalam negeri sebesar 91.000 barel per hari atau menghemat 30 persen impor premium. Di sektor mainstream, Pertamina membangun infrastruktur distribusi dan pemasaran, antara lain pipa dan storage di Sambu sebesar 150 ribu kl, Tanjung Uban sebesar 200 ribu kl, serta Tuban 50 ribu kl. Pertamina pun mempunyai aliansi strategis dengan pihak lain dalam menyediakan storage BBM.

Pertamina juga berencana menambah 72 unit armada kapal hingga 2017 untuk mengangkut minyak mentah dan produk guna memenuhi kebutuhan energi nasional. Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro mengungkapkan jika perusahaan merogoh kocek untuk pengadaan kapal-kapal ini sebesar USD300 juta.

Menurutnya, saat ini Pertamina telah memiliki 65 unit kapal berbagai ukuran. Dengan adanya penambahan armada kapal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan angkutan BBM dan minyak mentah guna terciptanya security of supply. Wianda menjelaskan, penambahan kapal ini merupakan implementasi dari shipping excellence yang merupakan bagian dari Marketing and Operation Excellence yang juga sejalan dengan lima pilar prioritas strategis Pertamina.

Pertamina terus melajukan inovasi bisnis, antara lain peluncuran pertalite dan Bright Gas 5,5 kg. Hingga per November 2015, total jumlah outlet yang menjual pertalite mencapai 1.931 di seluruh Indonesia. Di mana penguasaan pasar pertalite terhadap total premium mencapai 10 persen. Kemudian, kenaikan rata-rata penjualan pertalite pada Juli-Oktober mencapai 274 persen. Sedangkan Bright Gas 5,5 kg ditargetkan dapat merebut 23 persen pangsa pasar LPG nonsubsidi dalam lima tahun mendatang.


(AHL)