Marwan Batubara: Harga BBM Jangan Diperdebatkan!

Annisa ayu artanti    •    Minggu, 13 Dec 2015 17:08 WIB
bbm bersubsidi
Marwan Batubara: Harga BBM Jangan Diperdebatkan!
Pertamina (VITALIS YOGI TRISNA, ANTARA).

Metrotvnews.com, Jakarta: Niatan PT Pertamina (Persero) mengusulkan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis premium seharusnya tidak perlu diperdebatkan jika Pemerintah sudah tegas menjalankan peraturannya.

Direktur Utama IRESS, Marwan Batubara menjelaskan, penetapan harga gasoline dengan kadar Research Octane Number (RON) 88 ini sudah jelas ada formulanya. Jadi seharusnya Pemerintah hanya tinggal mengikuti peraturan yang ada.

"Masalah harga BBM ini tidak perlu menjadi perdebatan publik bahkan menjadi kisruh seandainya pemerintah itu konsisten dengan peraturan yang sudah diterbitkan yaitu perpres 91 tahun 2014," kata Marwan dalam sebuah diskusi di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Minggu (13/12/2015).

Marwan menjelaskan, di dalam Peraturan Presiden tersebut sudah ada formula harga premium yakni mengikuti harga keekonomian dan variabel utama seperti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

"Semua ada formula, ini merupakan langkah yang bagus untuk kita konsisten menjalankan. Sehingga tidak perlu ini lagi (ricuh), pertamina mengusulkan, karena penetapan harga itu tetap ditangan pemerintah selama tiga sampai dengan enam bulan," tutup dia.

Sebagai informasi, harga premium Jawa Madura dan Bali (Jamali) Rp7.300 per liter dan Premium Non-Jamali Rp7.400 per liter.

Pihak Pertamina, melalui Direktur Pemasaran dan Niaga, Ahmad Bambang pun membantah perseroan akan menaikkan harga premium. Ahmad mengatakan ada perbedaan itungan diantara harga premium jamali dan non jamali.

"Siapa yang minta? Itu bukan kalau hitungannya dulu, kalau mau sesuai Permen kan kalau premium jamali kan lima persen. Nah pemerintah lihat yang jamali dan non jamali kan tidak boleh beda jauh, karena apa, nanti orang beli dari Lampung naik feri dijual di Merak. Atau Bali dengan Lombok. Kita cuma mengajukan hitungan bukan naik," jelas Ahmad.



(SAW)