Peraturan TKDN Bikin Vendor Smartphone Lokal Sulit Bersaing

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 14 Dec 2015 14:49 WIB
tingkat kandungan dalam negeri
Peraturan TKDN Bikin Vendor Smartphone Lokal Sulit Bersaing
Samsung merupakan salah satu vendor global yang telah bersedia untuk memenuhi peraturan TKDN.

Metrotvnews.com: Peraturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) pada smartphone 4G sejatinya memiliki fungsi untuk melindungi pelaku industri smartphone di Indonesia sehingga mereka dapat berkembang dan bersaing dengan para vendor smartphone global.

Meskipun begitu, ketidakpastian cara hitung level TKDN bisa menjadi senjata makan tuan untuk para manufaktur lokal Indonesia. 

Joegianto, Business Development Director, PT. Tata Sarana Mandiri, menjelaskan bahwa pada awalnya, peraturan TKDN mengharuskan vendor global untuk melakukan perakitan smartphone 4G di Indonesia. Dengan kata lain, mereka harus membuat pabrik di sini. Meskipun begitu, perlahan, peraturan ini agak berubah.

Kini, vendor global tidak lagi harus merakit smartphone 4G secara lokal. Ketidakpastian inilah yang membuat para vendor lokal dan beberapa vendor global menjadi bingung.

"Mereka butuh kepastian," kata Joegianto saat dihubungi oleh Metrotvnews.com. Tanpa adanya kepastian tentang cara menghitung unsur TKDN, maka manufaktur lokal tidak akan berani untuk melakukan investasi besar-besaran karena dihantui oleh rasa takut investasinya tidak akan kembali.

"Misalnya, manufaktur lokal telah melakukan investasi besar, tetapi mendadak, pemerintah menyebutkan, vendor global tidak lagi harus melakukan investasi pabrik untuk menjual smartphone 4G di Indonesia, asal mereka melakukan investasi dalam hal pengembangan software," kata Joegianto.

Dia juga menjelaskan, peraturan TKDN justru membuat ongkos pembuatan smartphone meningkat. "Karena, mereka (para vendor) harus melakukan impor dengan barang dalam keadaan terurai dan melakukan perakitan di Indonesia," katanya.

Joegianto merasa, merek-merek smartphone global dapat mengatasi masalah yang muncul terkait peraturan TKDN dengan cepat. Dia memperkirakan, vendor global hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 bulan. Setelah itu, mereka akan menekan harga smartphone mereka.

Joegianto mengambil salah satu merek smartphone global dengan volum pengiriman barang terbesar di Indonesia sebagai contoh. Dia menyebutkan, merek tersebut dapat menjual produknya dengan rentang harga sekitar Rp1 juta - Rp2 juta.

"Sementara, para vendor lokal juga bermain di rentang harga yang sama," kata Joegianto. Dengan harga yang tidak jauh berbeda, vendor lokal akan sulit untuk bersaing dengan merek global karena masyarakat akan lebih cenderung membeli smartphone buatan vendor global.

"Hal inilah yang membuat vendor lokal menjadi hidup senggan, mati tak mau," katanya.

Selain itu, Joegianto memperkirakan ada beberapa vendor global yang tetap dapat lolos dari peraturan TKDN; mereka tetap dapat menjual smartphone 4G, meskipun masih diimpor. Dia lalu mempertanyakan peran pemerintah, yang seharusnya melindungi pelaku industri lokal.

"Kita pengusaha Indonesia, membayar pajak di Indonesia, tetapi pemerintah tetap memilih untuk mengandalkan vendor smartphone global," kata Joegianto. Untuk mengatasi masalah ini, dia merasa hal pertama yang harus pemerintah lakukan adalah menentukan cara menghitung unsur TKDN dengan baku.


(MMI)