Perkarakan Metro TV, Novanto Bikin Blunder Baru

Misbahol Munir    •    Selasa, 15 Dec 2015 14:34 WIB
setya novanto polisikan metro tv
Perkarakan Metro TV, Novanto Bikin <i>Blunder</i> Baru
Ketua DPR Setya Novanto (tengah) keluar dari gedung Nusantara III di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/11/2015),--Foto: MI/Mohamad Irfan

Metrotvnews.com, Jakarta: Langkah Ketua DPR Setya Novanto melaporkan Metro TV ke Bareskrim, terkait dugaan pencemaran nama baik menuai kecamanan. Langkah Novanto dinilai telah mengkriminalisasi media. Pengamat media Agus Sudibyo mengatakan, Novanto seharusnya jika keberatan dan merasa difitnah oleh media dapat menyelesaikan melalui penyelesaian jurnalistik.

"Setya Novanto melakukan kriminalisasi pers dengan melaporkan Metro TV ke polisi. Persoalan jurnalistik mesti diselesaikan secara jurnalistik pula, melalui mekanisme hak jawab dan pengaduan di dewan pers," tegas Agus kepada media, Selasa (15/12/2015).

Memperkarakan Metro TV, lanjut Agus, menunjukkan mantan Bendahara Umum Golkar itu tak paham mengenai persoalan tersebut. "Dia tidak paham perkara ini dan bikin blunder lagi," tegas mantan anggota Dewan Pers itu.

Sementara Pengamat Komunikasi Iswandi Syahputra mengatakan, langkah Novanto adalah bentuk ambisinya dalam mempertahankan jabatan. Segala upaya yang mengarah pada 'penyerangan' atau gerakan menurunkan Novanto dari jabatan Ketua DPR akan dilawan.

Dia menjelaskan, pemberitaan Metro TV terkait kasus Novanto tidak ada yang dilanggar. Semua yang diberitakan adalah bentuk karya jurnalistik.

"Novanto sangat ambisius untuk mempertahankan jabatannya. Sehingga dengan cara apapun dia akan mempertahankannya," tegas Iswandi kepada Metrotvnews.com.

Dia menyarankan publik agar mengkonsolidasi diri, karena sosok yang didesak tak sadar tengah melawan desakan publik.

"Yang dilawan (Novanto) ini sudah tak sadar melawan publik. Bagi saya Novanto tidak ada celah untuk menghindar dari pelanggaran etik yang dilakukan," kata mantan anggota Komisi Penyiaran Indoesia (KPI) itu.

Novanto lewat pengacaranya, Razman Arif Nasution, melaporkan Pemimpin Redaksi Metro TV Putra Nababan ke Bareskrim Polri, Senin 14 Desember 2015. Putra diduga melakukan pencemaran nama baik terhadap Novanto.

"Yang dilaporkan Pemred (Pemimpin Redaksi) Metro TV. Dugaan pencemaran nama baik dan fitnah. Ini bukan Sudirman Said, tapi Metro TV. (Sangkaan) UU IT dan KUH Pidana 310 dan 311," kata Razman di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Razman mengatakan, bukti faktual Metro TV sengaja mengaitkan Novanto dalam pembelian pesawat perang amfibi. Padahal, tambah dia, Novanto tak memiliki kewenangan dalam hal tersebut. "Itu urusan Menteri Pertahanan," ujar Razman.

Menurut Razman, segala hal yang dituduhkan kepada kliennya sengaja dikaitkan dan disebarkan untuk mencemarkan nama baik Novanto. Razman menyakini, kliennya itu tak terlibat dalam pembelian pesawat amfibi.

Novanto melalui pengacaranya menuntut Pemred Metro TV Putra Nababan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Laporan Novanto teregister dengan Tanda Bukti Lapor Nomor TBL/886/XII/2015/Bareskrim.

Pemimpin Redaksi Metro TV Putra Nababan menanggapi santai laporan Novanto. Ia akan menjalani alur sesuai aturan Dewan Pers. Menurut Putra, apa yang disiarkan Metro TV merupakan produk jurnalistik. 

“Itu kan produk jurnalistik, dibuat sesuai dengan aturan. Ada undang-undangnya juga. Yang membuat UU-nya juga, kan, DPR,” ujar Putra, Selasa, 15 Desember 2015.

Menurut UU Pers No 40 Tahun 1999, kata Putra, ada instrumen yang bisa dimanfaatkan oleh Novanto bila keberatan atas pemberitaan. Salah satunya dengan menggunakan hak jawab. 

Putra menjelaskan, selama ini pihaknya telah menghubungi Novanto untuk meminta konfirmasi atas berita yang ada. Tapi tidak mendapat jawaban.  “Kami sudah menghubungi sebelumnya, tapi beliau memang belum mau berkomentar,” kata Putra.

Putra menyayangkan sikap Ketua DPR yang seakan-akn tidak menghormati UU. DPR yang membuat UU, tapi mereka juga yang tidak menghormatinya. "Tidak memberikan pelajaran, bahkan terkesan tidak mendukung iklim demokrasi pers,” tutur Putra.


(MBM)