Hari Ini, OC Kaligis Hadapi Vonis Hakim Tipikor

Achmad Zulfikar Fazli    •    Kamis, 17 Dec 2015 07:18 WIB
Hari Ini, OC Kaligis Hadapi Vonis Hakim Tipikor
Otto Kornelis Kaligis saat ditahan KPK. Foto: Antara/Vitalis Yogi.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengacara senior Otto Cornelis Kaligis akan meghadapi vonis di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kamis (17/12/2015). Terdakwa kasus suap hakim dan panitera Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) Medan ini dituntut Jaksa Penuntut Umum KPK 10 tahun dan denda Rp 500 juta dengan subsider 4 tahun kurungan penjara.

Kasus suap yang dilakukan Kaligis ini terungkap usai KPK menciduk anak buahnya, M Yagari Bhastara Guntur alias MYB alias Gerry dalam operasi tangkap tangan di Medan. Gerry ditangkap bersama tersangka lainnya, Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro.

Dari "nyanyian' Gerry itulah akhirnya nama ayah dari aktris Velove Vexia muncul. KPK akhirnya menetapkan Kaligis sebagai tersangka, Selasa 14 Juli 2015.

"Memang kami mendapat laporan dari tim bahwa memang sudah diterbitkan sprindik (Surat Perintah Penyidikan) dan OCK ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan suap tiga hakim TUN Medan," kata Pelaksana Tugas Pimpinan KPK Indriyanto Seno Adji, saat dikonfirmasi, Selasa 14 Juli 2015.

Sebelumnya KPK juga telah menetapkan tersangka kepada sejumlah pihak dalam kasus ini, di antaranya Gubernur non-aktif Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho, dan Istrinya Evy Susanti. Bahkan, pasangan ini diduga sebagai penyandang dana dari kasus suap ini. 

Selain itu, KPK juga telah menetapkan anggota majelis hakim Amir Fauzi dan Dermawan Ginting, serta panitera Syamsir Yusfan sebagai tersangka.

Kaligis sempat melakukan perlawanan terhadap penetapan tersangka ini, mulai dari praperadilan hingga melakukan permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Namun, langkah tersebut gagal menyelamatkan pria berusia 74 tahun ini dari jeratan KPK.

Kasus suap ini bermula dari penyidikan kasus korupsi Dana Bantuan Sosial dan Bantuan Daerah Bawahan (BDB) Sumatera Utara tahun anggaran 2012 dan 2013 yang menyeret mantan Kabiro Keuangan Sumut Ahmad Fuad Lubis. Kasus itu disidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.

Kasus Dana Bansos dan BDB Sumut sudah diputus bebas di Pengadilan Tinggi (PT) Sumatera Utara. Berbekal putusan PT Sumut, Ahmad Fuad Lubis balik memperkarakan Kepala Kejaksaan Tinggi atas kasus yang menyeretnya.

Ahmad menggugat kewenangan penyelidikan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dalam perkara tersebut ke PTUN. Perkara ini dipegang Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro, dan dua koleganya Amir Fauzi, dan Dermawan Ginting. Ahmad Fuad Lubis pun diputus menang dalam gugatan di PTUN Medan.

Rupa-rupanya, putusan Tripeni berbau amis. Usai membacakan putusan, dia dan dua rekannya, serta panitera Syamsir Yusfan yang juga menjabat Sekretaris PTUN Medan, dicokok. Diduga saat itu mereka menerima uang suap yang diantarkan Gerry yang menjadi pengacara Ahmad Fuad.

Dari hasil pemeriksaan, Gerry diduga selaku penyuap dinilai melanggar Pasal 6 Ayat 1 huruf a dan Pasal 5 Ayat 1 huruf a atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 54 Ayat 1 dan Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Tripeni, Amir dan Dermawan diduga sebagai penerima suap selaku majelis hakim disangka Pasal 12 huruf a atau huruf b atau huruf c atau Pasal 6 Ayat 2 atau Pasal 5 Ayat2 atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1.

Syamsir Yusfan disangkakan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1.

Kaligis diduga melanggar Pasal 6 ayat 1 huruf a dan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b dan/atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU 20 Tahun 2010 juncto Pasal 64 ayat 1 juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP.
(AZF)