Fed Rate Naik, Pasar di Indonesia Tetap Percaya Diri

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 17 Dec 2015 12:09 WIB
the fed
Fed Rate Naik, Pasar di Indonesia Tetap Percaya Diri
Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil menilai kenaikan suku bunga The Fed sebanyak 25 basis poin tidak terlalu dikhawatirkan oleh para pelaku pasar (investor). Hal ini terlihat dari pasar di Indonesia tetap percaya diri dan diperkirakan bisa berkembang jauh lebih baik lagi. 

"Kenaikan Fed Fund Rate ini arti sebenarnya dari perspektif pasar tidak ada yang baru. Semuanya sudah di press in oleh pelaku pasar. Just‎ru semakin pasti seperti ini lebih bagus," ucap Sofyan, ditemui dalam acara 'Seminar Nasional Infrastruktur untuk Rakyat', di UOB Plaza, Jakarta, Kamis (17/12/2015).

Selain itu, lanjut Sofyan, kenaikan Fed Fund Rate ini juga tidak menimbulkan isu-isu yang lain. Berbeda dengan sebelum Fed Fund Rate dinaikkan, banyak orang yang bermain dengan isu ini. Dampak dari isu yang dimainkan itu adalah ekonomi Indonesia bergejolak dari awal tahun hingga sekarang ini.

Meski ekonomi diperkirakan akan kembali membaik setelah The Fed menaikkan suku bunganya, namun Sofyan menegaskan agar Indonesia perlu mewaspadai adanya gejolak dari kenaikan kembali Fed Fund Rate. Sebab, hal itu menjadi masalah yang cukup dominan bagi Indonesia.

‎"Cuma yang akan menjadi masalah adalah kapan naik lagi (Fed Fund Rate), karena supaya tidak spesifik. Ini yang harus diantisipasi," jelas dia.

Sementara itu, terkait dengan nilai tukar rupiah, Sofyan meminta agar pelaku pasar tidak memainkan nilai tukar rupiah setelah Fed Fund Rate dinaikkan. Pasalnya. dampak tersebut akan menghantam rupiah secara keras.

Lebih dari itu, ia memperkirakan, nilai tukar rupiah akan berada di posisi aman selama kurun waktu 3-4 bulan, bahkan bisa sampai dengan enam bulan. Namun, ia meminta agar tidak terlalu senang dengan kondisi itu. Dalam hal ini, kewaspadaan terhadap tiap potensi gejolak yang datang ke Indonesia perlu hadir.

‎"Ini kan para pelaku pasar banyak sekali dari satu currency ke curency lain. Semua isu yang ada itu potensi menjadi duit. Mereka cari duit, tapi dampaknya kepada kurs kita (rupiah)," terangnya.



(ABD)