Masjid Agung Solo Mulai Bunyikan Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari

Pythag Kurniati    •    Kamis, 17 Dec 2015 16:49 WIB
budaya
Masjid Agung Solo Mulai Bunyikan Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari
Para Niyaga mulai menabuh Gamelan Guntur Sari dan Guntur Madu. (Metrotvnews.com/Pytag)

Metrotvnews.com, Solo: Kamis, 17 Desember 2015, suasana halaman Masjid Agung Solo nampak berbeda dari biasanya. Ratusan orang berkerumun di bangsal sisi selatan, tempat Gamelan Guntur Madu akan dibunyikan.

Beberapa saat kemudian para Niyaga berpakaian putih dan samir mulai menabuh gamelan. Seolah mendapat komando, ratusan orang termasuk kerabat keraton Solo langsung melakukan tradisi mengunyah kinang.

Enam hari sebelum peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW tepatnya setiap tanggal 5 Rabiul Awal atau Mulud dalam bulan Jawa, dua perangkat gamelan yakni Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu mulai ditabuh di bangsal Masjid Agung Solo. Dibunyikannya dua gamelan ini sering dikenal dengan Miyos Gongso.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa, Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Winarno Kusumo mengungkapkan Kiai Guntur Madu diletakkan di bangsal sebelah selatan Masjid Agung Solo sedangkan gamelan Kiai Guntur Sari diletakkan di sebelah utara. KPA Winarno Kusumo memaparkan sejarah gamelan tersebut dimulai sejak era kepemimpinan Raden Patah di Demak.

“Pada masa tersebut Kanjeng Sunan Kalijaga mendapat petunjuk penyebaran agama Islam melalui budaya. Kemudian Sunan Kalijaga pun membuat gamelan yang diberi nama Gamelan Kiai Nogo Wilogo,” paparnya saat ditemui, Kamis (17/12/2015).

Winarno mengatakan gamelan itu ditempatkan di halaman masjid. Bagi siapa saja warga yang ingin melihat gamelan tersebut diwajibkan membaca syahadat. Dari kata syahadatain itulah kini masyarakat mengenal istilah sekaten.

Perkembangan Islam terus berlanjut dari era Kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, dibuatlah sebuah gamelan besar. Gamelan itu diberi nama Gamelan Kiai Guntur Sari yang dibunyikan tujuh hari tujuh malam sebelum peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

“Dalam perjalanan waktu, pada masa Sinuhun Pakubuwono III terjadi yang namanya Babad Giyanti. Pada saat itu terjadi perpecahan antara Surakarta dengan Kasultanan Yogyakarta. Gamelan Kiai Guntur Sari pun separuh dibawa ke Yogyakarta dan separuh ditempatkan di sini,” terangnya.

Kemudian pada era kepemimpinan Sinuhun Pakubuwono IV, Gamelan Kiai Guntur Sari dilengkapi kembali sekaligus membuat gamelan yang diberi nama Kiai Guntur Madu. Gamelan Guntur Madu melengkapi gamelan Guntur Sari sehingga seimbang atau dalam bahasa Jawa disebut sekati. 

“Sekati atau seimbang. Itu ada filosofinya bahwa raja harus melakukan segala sesuatu dengan adil, tidak berpihak. Dari kata sekati itu juga masyarakat mengenal istilah sekaten, selain diambil dari syahadatain,” papar dia.

Kedua gamelan tersebut memainkan gendhing (lagu) khusus yakni Rambu dan Rangkung. Rambu berasal dari Bahasa Arab Rabbuna (Tuhan) sedangkan Rangkung berasal dari kata Roukhun (jiwa yang agung).

Keindahan suara gendhing Rambu dan Rangkung dapat dinikmati masyarakat selama enam hari menjelang peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Kamis, 24 Desember 2015 mendatang. 


(MEL)