Bos Apindo: 2016, Rupiah Stabil di Rp13.000/USD

Husen Miftahudin    •    Jumat, 18 Dec 2015 11:03 WIB
ekonomi indonesia
Bos Apindo: 2016, Rupiah Stabil di Rp13.000/USD
Ilustrasi rupiah -- FOTO: Reuters/Darren

Metrotvnews.com, Jakarta: Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meyakini kondisi perekonomian tahun depan akan membaik. Sektor pariwisata yang menjadi andalan di tengah melemahnya ekspor komoditas dan menguatnya laju rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menjadi indikator utama Apindo menilai perekonomian nasional 2016 membaik dibandingkan dengan perekonomian tahun ini.

Dalam Sharing on Excelent Economic Outlook 2016, Ketua Umum Apindo Haryadi Sukamdani mengatakan bahwa gerak rupiah di tahun depan akan berada pada titik keseimbangan. Meski rupiah tak akan sampai pada level Rp10.000 per USD, namun dia meyakini gerak rupiah akan stabil di level Rp13.000 per USD.

"Percepatan government spending mampu mendorong penguatan rupiah. Poinnya, pemerintah mempercepat belanjanya. Goverment spending juga dimajukan, jadi Januari bisa langsung jalan. Saya pikir bagus. Jadi indikator positif," ujar Hariyadi dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (18/12/2015).

Selain itu, meski harga komoditas di pasar global tengah anjlok, namun Indonesia punya andalan baru untuk menggantikan kinerja ekspor yaitu sektor pariwisata. Pemerintah diharapkan mendorong sektor ini secara maksimal pada tahun depan.

"Kita juga kan sektor seperti pariwisata belum kita genjot, sektor yang digarap belum serius. Jadi kalau kita kehilangan pendapatan dari komoditas itu bisa digantikan dengan pariwisata. Manufaktur juga nanti kan besar-besaran untuk promosi. Bisa gantikan lah komoditas yang harganya lagi hancur," jelasnya.

Senada, Ketua Ikatan Alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Budi Harto mengungkapkan, sejak awal Pemerintahan Jokowi-JK telah banyak diganjal oleh kebijakan-kebijakan kontraproduktif yang justru menghambat gerak perekonomian dalam negeri. Sayangnya pemerintah salah langkah dalam mengambil kebijakan. Target pajak yang terlalu tinggi di tengah anjloknya ekonomi global dan tak didukung kondisi internal, justru membuat ekonomi dalam negeri melemah dari 5,1 persen di tahun lalu menjadi 4,7 persen.

Namun, pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Wijaya Karya (WIKA) Persero Tbk tersebut juga yakin pada 2016 kondisi ekonomi di dalam negeri akan jauh lebih baik. Indikatornya, kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam sejumlah paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah akan mulai terealisasi dan dirasakan manfaatnya pada tahun depan.

"Kita melihat bahwa pemerintah saat ini sudah serius mempersiapkan semuanya dan sudah memberikan banyak kebijakan-kebijakan dalam perekonomian yang memberi stimulus pada pertumbuhan ekonomi. Kemudian kita juga melihat bahwa saya yakin belanja pemerintah tahun depan akan lebih baik daripada tahun ini dan infrastruktur sudah mulai dikembangkan. Saya kira, kondisi ekonomi pada 2016 akan lebih baik dari pada 2015," pungkas Budi.


(AHL)