Jatuhnya Sang 'Baby Falcon' TNI AU

Yogi Bayu Aji    •    Senin, 21 Dec 2015 06:19 WIB
pesawat jatuh
Jatuhnya Sang 'Baby Falcon' TNI AU

Metrotvnews.com, Jakarta: Tepat 13 Februai 2014, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) resmi menerima 16 pesawat fighter lead in trainer (melatih calon penerbangan tempur), T-50i Golden Eagle, buatan Korea Selatan. Pesawat-pesawat senilai USD400 juta itu akan menggantikan pesawat latih Hawk MK 53 yang sudah berumur.

Burung besi itu sempat unjuk gigi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Aksi para pesawat yang dikendarai pilot yang juga telah dilatih di Negeri Ginseng ini sukses memunculkan decak kagum para tamu di Lanud Halim.

T-50i Golden Eagle memang bukan pesawat sembarangan. Kendaraan tempur pabrikan Korean Aerospace Industries itu digadang-gadang memiliki sejumlah keunggulan. 

Sebagai pesawat tempur, Golden Eagle memiliki spesifikasi mumpuni. Pesawat ini ditenagai dengan mesin general electric F404-GE-102. Mesin tersebut mampu menghasilkan daya dorong 17.700 pounds dengan after burner dan 11.000 pounds dengan tenaga mil power.

Bobot maksimalnya mencapai 14 ton. Namun, kecepatan maksimalnya hingga 1,5 Mach atau 1,5 kali kecepatan suara (1600 km/jam) dan mampu menanjak hingga ketinggian maksimal 55.000 kaki dari permukaan laut.

Burung besi ini juga mampu mengangkut persenjataan seberat 5 ton. Dia dilengkapi kanon gatling internal tiga laras general dynamics 20 milimeter yang mampu menyemburkan dua ribu peluru per menit.


T-50i Golden Eagle dengan warna biru khas tim akrobatik TNI AU. MTVN/Yogi Bayu Aji.

Kanon ini ditempatkan di sisi kiri kokpit, tepat di leading edge extension pesawat. Lima external station ada pada bagian under fuselage dan under wing serta dua missile launcher rail pada wing tip untuk membawa semua jenis bom, rudal atau roket.

Dari segi desain, pesawat ini memiliki kemiripan dengan jet tempur F-16 keluaran Amerika Serikat. Keduanya memiliki bubble canopy, wing, dan fuselage yang saling menyatu serta kemiripan lainnya sehingga T-50i Golden Eagle sering disebut ‘Baby Falcon’. 

Perbedaannya T-50i Golden Eagle dengan F-16 yakni ada pada lubang masuk jet yang ada dua di bawah sayap. Sementara, lubang masuk jet ada di bawah perut. 

T-50i Golden Eagle TNI AU punya dua jenis warna. Delapan pesawat memiliki warna biru khas tim akrobatik TNI AU ‘Elang Biru’ sedangkan delapan lainnya berwarna kamuflase hijau untuk misi tempur. 


T-50i Golden Eagle dengan warna kamuflase hijau untuk misi tempur. MTVN/Yogi Bayu Aji.

Namun, kabar buruk baru saja menimpa pasukan ‘Baby Falcon’ TNI AU. Salah satu pesawat jatuh di Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta, sekitar pukul 09.50 WIB Minggu (21/12/2015) saat beratraksi dalam acara Gebyar Dirgantara Hari Ulang Tahun ke-70 Akademi Angkatan Udara (AAU).

"Pesawat jatuh saat melakukan akrobatik dan terbang rendah. Pesawat jatuh setelah melakukan atraksi selama 15 menit. Saat melakukan manuver, pesawat jatuh ke halaman timur Lanud Adisutjipto, pukul 9.53 WIB," kata Komandan Landasan Udara Adisutjipto Marsma Imran Baidirus kepada wartawan di Yogyakarta.

Imran mengatakan, insiden ini merupakan kecelakaan tunggal. Sebelum menyentuh tanah dan terbakar, pesawat menabrak gedung AAU di Kompleks Lanud Adisutjipto. Dari foto yang diterima, tampak Gedung AAU sebelah samping pojok atas hancur.

Insiden ini mengakibatkan dua awak pesawat tewas. Kedua awak penerbang yakni Komandan Skuadron XV Madiun Letnan Kolonel Marda Sarjono dan Kopilot Kapten Dwi Cahyadi tak sempat keluar dari pesawat.

"Ketinggian sekitar 500 feet. Kedua penerbang tidak sempat keluar sebelum pesawat jatuh ke tanah," ujar dia.

TNI AU pun mulai menyelidiki musabab jatuhnya Pesawat T50i Golden Eagle. Tim investigasi yang dipimpin Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Hadiyan Sumintaatmaja sudah dikirim ke Yogyakarta.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Dwi Badarmanto menyatakan, ada lima indikator yang bakal jadi bahan penyelidikan tim investigasi. "Manusianya, mesinnya, misinya, medianya, dan manajemennya. Masing-masing ini akan dilakukan penyelidikan sedetail mungkin," kata Dwi di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Makassar Jakarta Timur.

Soal masalah di manusianya, Dwi mencontohkan tim investigasi bakal mencari tahu psikologis Pilot dan Kopilot sebelum menerbangkan pesawat. "Apakah ada masalah, kurang tidur dan lain sebagainya," tambah Dwi.

Kendati demikian, Dwi menegaskan Pilot dan Kopilot pesawat tersebut memiliki kualitas baik. Pilot Letkol Marda Sarjono contohnya merupakan komandan Skadron Udara 15 Lapangan Udara Iswahjudi, Madiun. "Beliau adalah lulusan terbaik, dan dipercayakan untuk komandan skadron," ungkap Dwi.

Investigasi juga melibatkan pihak pembuat pesawat T50i Golden Eagle, yakni Korean Aerospace Industries. TNI AU berharap hasil penyelidikan tim investigasi didapat secepat mungkin sehingga penyebab dapat diketahui.

"Sehingga kita bisa ambil kesimpulan dan kita bisa tahu bagaimana langkah yang akan diambil," terang Dwi.



(OGI)