Ahli ITB Pastikan Keaslian Suara Setya Novanto

Arif Hulwan    •    Senin, 21 Dec 2015 19:40 WIB
pencatut nama presiden
Ahli ITB Pastikan Keaslian Suara Setya Novanto
Jaksa Agung HM Prasetyo. Foto: MI/Arya Manggala.

Metrotvnews.com, Jakarta: Alat bukti kasus #PapaMintaSaham bertambah. Rekaman pembicaraan yang didapat dari ponsel Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin telah diperiksa ahli dari ITB. Hasilnya, ketiga aktor utama yang disebut-selama ini, Setya Novanto, Maroef dan Riza Chalid, benar pemilik suara di rekaman itu.

"(Bukti baru) antara lain kepastian suara siapa yang di (rekaman) sana sudah. Iya (ahli) ITB. Kita pun sudah kerja sama minta bantuan mereka. Kalau perlu nanti kita cari second opinion dulu," kata Jaksa Agung Muhammad Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Saat ditanya soal persentase akurasi suara para aktor di rekaman tersebut, Prasetyo tak bisa menjelaskannya lebih jauh. "Mereka (ahli) mengatakan itu suara mereka (para aktor). Sudah saya enggak tahu berapa persen-persennya. Kepastian dari mereka itu betul suara (pihak) yang disebut-sebut selama ini," kata Prasetyo.

Pakar teknologi informasi Onno W Purbo sebelumnya menyebut, penyelidikan yang dimulai dari rekaman itu membutuhkan pemrosesan sinyal (signal processing). Itu untuk memastikan otentisitas rekaman serta aktor-aktor yang terlibat di dalamnya.

Metodenya, jelas dia, mesti ada contoh suara asli yang diambil langsung dari pihak-pihak yang diduga kuat sebagai aktor di rekaman. Ini untuk pembanding. Contoh suara itu kemudian dikomparasi dengan suara rekaman. Hasilnya ada dalam bentuk peluang.

"Harus ada referensi, baru bisa ngomong ini suaranya dia, ini suaranya dia. Itu juga pakai probabilitas. Ini (hasilnya) kira-kira 70 persen suaranya dia. Enggak bisa 100 persen," terang Onno.

Meski begitu, Onno mengaku bukan pakar yang tepat untuk dimintai keterangan oleh Kejaksaan guna memeriksa keabsahan rekaman. Pakar pemrosesan sinyal itu adalah Prof. Tati Latifah Radjab Mengko dari ITB.

Soal keaslian rekaman itu dibantah oleh Novanto. Kolega Setya di DPR, Fadli Zon dan Fahri Hamzah, mengamini. Menurut dua Wakil Ketua DPR itu, ada kemungkinan itu bukan suara Setya. Bukan tidak mungkin ada pengeditan rekaman oleh pihak tertentu untuk memojokan Novanto.

Prasetyo menjelaskan, pihaknya terus berupaya menambah alat bukti lain. Yakni lewat pemanggilan terhadap para pakar hukum pidana dan hukum tata negara. Tujuannya, untuk memastikan "Apa benar ada pemufakatan jahat. Kita akan ke sana arahnya."

Saat ditanya soal kecukupan alat bukti untuk menaikan status hukum kasus ini ke tahap penyidikan, Prasetyo mengaku masih akan memastikan hal tersebut kepada tim penyelidik. "Saya akan tanya penyelidik dulu. Dievaluasi dulu," kilahnya.

Soal memintai keterangan dari Novanto dan Riza Chalid, Prasetyo mengembalikan itu kepada pertimbangan tim penyelidik. Yang pasti, aku dia, tak ada unsur segan untuk memanggil keduanya. "Oh ndak, kenapa harus ewuh pakewuh. Ini pelanggaran hukum. Tiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di depan hukum," tepis dia.

Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyebut, alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka atau menaikan status proses hukum ke tahap penyidikan, aparat hukum membutuhkan setidaknya dua alat bukti. 


(DOR)