Gagap Arahkan Seni dan Budaya Pop

Surya Perkasa    •    Senin, 21 Dec 2015 19:52 WIB
telusur seni
Gagap Arahkan Seni dan Budaya Pop
Sejumlah orang antri tiket konser Justin Bieber di salah satu konter pembayaran tiket Bank Mandiri di Cilandak Town Square, Jakarta. (foto: Antara/Widodo S. Jusuf)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengembangan seni memerlukan peran pemerintah. Oleh karena itu, segala dukungan terhadap dunia seni sudah selayaknya diperbesar.
 
Sekretaris Yayasan Kesenian Jakarta Bambang Subekti menilai selama ini pemerintah seolah gagap dalam mengembangkan kesenian. Penyebabnya, belum ada kerangka besar pengembangan kesenian di Indonesia. Akhirnya, kesenian hanya dijalankan sendiri-sendiri oleh komunitasnya.
 
“Pemerintah tidak memiliki grand design. Pemerintah pusat itu masih bingung. Arahnya ini ke mana masih belum jelas. Sehingga daerah, termasuk Jakarta, berjalan sendiri-sendiri,” ujar Bambang kepada metrotvnews.com, Jumat (18/12/2015).
 
Meski peran pemerintah belum dirasakan maksimal dalam bidang kesenian, namun tidak berarti seluruh kesalahan harus ditimpakan kepada pemerintah. Sebab, peran masyarakat seni, terutama lembaga kesenian juga perlu dipertanyakan.
 
Bambang menilai, setiap daerah memiliki kelompok dan lembaga seni yang harusnya lebih banyak berperan dalam memberi masukan dan dorongan kepada pemerintah. Sebagai contohnya, di Jakarta itu yang memiliki Institut Kesenian Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta.
 
Kedua lembaga ini memiliki tanggung jawab paling besar dalam perkembangan kesenian di Ibu Kota. Namun, Bambang justru melihat peran kedua lembaga ini tidaklah terlihat.
 
“Seharusnya memberi masukan kepada gubernur, bahwa strategi pengembangan kesenian di Jakarta itu harus begini lho. Tapi itu tidak muncul,” kata Bambang.
 
Akibatnya, pemerintah Jakarta menjadi kehilangan arah karena tidak tahu konsep seperti apa yang tepat dijalankan. Padahal, pemerintah perlu bekerja sama dengan masyarakat seni yang notabene paling tahu akan perkembangan seni dan kebutuhannya.
 
Karena alasan itu, Bambang mendorong Dewan Kesenian Jakarta memberi masukan untuk mengembangkan kesenian Jakarta. Begitu juga daerah-daerah lain. Seniman secara nasional juga harus berpikir bersama pemerintah pusat dalam merancang kerangka besar pengembangan seni Indonesia.
 
“Jadi, dengan begitu masyarakat seni bisa hidup, pemerintah juga punya andil dengan memberikan dorongan,” kata pria yang sempat dipercaya mengelola Taman Ismail Marzuki ini.
 
Berdayakan masyarakat seni
 
Bambang menilai pemerintah tidak berpikir keras dan mengeluarkan sumber daya besar-besaran untuk pengembangan seni. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat memanfaatkan sumber daya kesenian yang telah ada, yaitu masyarakat kesenian itu sendiri.
 
Saat ini di Jakarta contohnya, banyak seniman-seniman dan pusat seni yang bisa didorong dalam mengembangkan kesenian.
 
Pemerintah masuk dengan memberikan stimulan kepada masyarakat seni yang sudah ada. Jadi Pemerintah tidak perlu membuat akses baru atau mengeluarkan investasi baru. Pelaku seni yang ada diberi dorongan untungan menyebarkan virus kesenian sesuai dengan kemampuannya masing-masing lewat bantuan dan stimulan.
 
“Contohnya, seniman Jakarta kan banyak. Seperti Mpok Nori. Tapi kan mestinya tidak berhenti di generasi dia saja. Seharusnya, rumah beliau itu dijadikan pusat untuk memberikan pelatihan lenong,” kata dia.
 
Bantuan tersebut juga tidak harus berbentuk uang. Misalnya rumah pelukis didorong untuk memberi pendidikan seni kepada masyarakat kemudian diberikan bantuan berupa cat minyak, kanvas, dan lain-lain. Pusat pembuatan keramik bisa dibantu dengan membuka akses bahan baku dan membatu pemasaran keramiknya.
 
“Jadi pemerintah tidak perlu membuka investasi baru, tapi memberdayakan masyarakat seni yang ada. Masyarakat seni bisa hidup, pemerintah juga punya andil,” kata Bambang.
 
Ekspor budaya
 
Pengamat budaya dari Universitas Gadjah Mada, Suray Agung Nugroho, dalam salah satu makalahnya menjelaskan bahwa fenomena Hallyu –istilah buatan yang bermakna pengaruh budaya modern Korea di negara-negara lain– yang merebak di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, tak lepas dari peran kerja sama antara pemerintah dan masyarakat Negeri Ginseng terebut.
 
Perlu kiranya diketahui bagaimana pemerintah Korea menyikapi fenomena semakin meluasnya pengaruh budaya Korea, termasuk “Korean Pop” atau “K-Pop”, di negara-negara Asia.
 
Menurut Suray, Kim Dae Jung pada saat menjabat presiden Korea Selatan tahun 1998 yang lalu mengatakan bahwa salah satu tujuan pemerintahannya adalah meningkatkan ekspor budaya Korea. Korea harus bisa menjadi suatu negara yang tidak hanya bisa mengekspor hasil industri manufakturnya, namun juga harus bisa memberikan sesuatu yang lain kepada dunia, yaitu melalui produk budaya.
 
Salah satu hal yang bisa dijadikan perbandingan adalah besarnya ekspor produk budaya Amerika ke segala penjuru dunia hanya dari sektor perfilman saja. Hal ini bisa dijadikan satu gambaran bahwa ekspor budaya juga bisa memberikan nilai yang besar bagi pendapatan suatu negara.
 
Pada awal milenium ini telah terbukti bahwa Korea akhirnya bisa juga mengekspor produk budayanya. Untuk menjawab mengapa fenomena ini bisa terjadi sangatlah tidak mudah. Bisa jadi tidak ada jawaban yang sempurna. Namun, ada beberapa faktor yang bisa dijadikan cermin untuk melihat perkembangan hal ini.
 
Pertama, produk budaya Korea telah berhasil mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern. Produk-produk  perfilman Korea sering mengangkat tema sentral kehidupan nilai orang Asia, walaupun ceritanya bisa saja terjadi di setiap sudut dunia mana pun.
 
Kedua, keberhasilan Korea dalam menjual produk budayanya tidak lepas dari etos kerja orang Korea itu sendiri. Banyak penyanyi maupun bintang idola Korea yang rela untuk melakukan jumpa penggemar di beberapa negara Asia walaupun honor mereka tidak seberapa dibandingkan dengan apabila mereka melakukan tur di negara sendiri. Hal inilah yang menjadikan mereka semakin dekat dengan penggemarnya, terutama di negara-negara Asia Timur.
 
Pemerintah Korea pun kini berusaha untuk mempertahankan citra yang diperolehnya dari fenomena Hallyu ini. Salah satunya adalah dengan dicanangkannya tahun wisata Korea yang mengedepankan program-program yang  menjual paket-paket wisata yang secara emosional bisa menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke negera Korea.
 
Beberapa di antaranya adalah merebaknya paket-paket wisata Winter Sonata dan Endless Love. Paket ini sengaja dirancang untuk dipasarkan kepada para wisatawan di Tiongkok,Taiwan, Singapura dan Malaysia tempat sinetron-sinetron Korea pernah ditayangkan. Dengan paket ini pula, para wisatawan bisa melihat lokasi pembuatan sebuah film atau mengunjungi rumah idolanya. Dengan terjadinya satu kerjasama yang baik antar pihak di Korea, maka Hallyu pun berdampak positif bagi perkembangan dunia wisata Korea.
 
"Dari kenyataan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa pemerintah Korea jeli menangkap peluang yang ada," kata Suray.

Ia menambahkan, seiring dengan mulai terkenalnya produk-produk budaya Korea di negara-negara Asia, satu hal yang banyak menjadi pembicaraan adalah perfilman Korea yang telah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Korea merupakan salah satu negara di Asia yang pangsa pasar film domestiknya besar, sekitar 40%. Bila hampir semua negara di dunia ini industri perfilmannya didominasi oleh film-film Hollywood, tidak demikian halnya dengan Korea.

Satu ilustrasi yang bisa menggambarkan fakta ini adalah bahwa film Titanic (4,7 juta penonton) yang merupakan box-office produksi Hollywood kalah laris di Negeri Ginseng tersebut dengan film dalam negeri berjudul Shiri yang berhasil meraih 5,78 juta penonton.

Preferensi masyarakat Korea untuk menonton filmnya sendiri bisa dilihat sebagai tanda bahwa menonton film buatan dalam negeri yang box-office telah menjadi semacam pemersatu dalam kehidupan bersosial. Film dalam negeri yang sedang populer merupakan bahan percakapan yang umum.

Hal yang sama pernah terjadi di Indonesia tatkala film Ada Apa dengan Cinta yang disutradarai Rudy Soedjarwo pada tahun 2002 sukses luar biasa dengan jumlah penonton mencapai 2,1 juta. Mulai saat itulah banyak orang yang mulai menjadikan Ada Apa dengan Cinta ini sebagai bahan pembicaraan.
 
Menurut Suray, apa yang terjadi di Korea menggambarkan bahwa film Korea sebagai salah satu budaya pop telah membentuk suatu mass culture di masyarakat Korea. Di lihat dari kacamata lain, perfilman Korea yang booming di negeri sendiri itu telah menjadi semacam prestise dalam menaikkan gengsi negara Korea mengingat tidak banyak negara yang berhasil menaklukkan penetrasi kekuatan Hollywood.
 
(ADM)

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

2 hours Ago

Salah satu yang akan dibahas dalam rapat MKD itu adalah status Setya Novanto sebagai kasus koru…

BERITA LAINNYA