Bangunan Apung Dinilai Tepat untuk Eksplorasi Gas

Wandi Yusuf    •    Senin, 21 Dec 2015 23:31 WIB
blok masela
Bangunan Apung Dinilai Tepat untuk Eksplorasi Gas
Sumur migas. Foto: Antara/Wahyu Putro

Metrotvnews.com, Maluku: Teknologi Floating Liquified Natural Gas (FLNG) dinilai tepat digunakan pada pengembangan lapangan gas di Blok Migas Masela, Maluku, ketimbang onshore LNG (OLNG).
 
“Lewat berbagai kajian, metode FLNG ini lebih menguntungkan dan aman dibandingkan metode konvensional OLNG,” kata guru besar Fakultas Teknologi Kelautan ITS Ketut Buda Artana, dalam keterangan pers yang diterima, Senin (21/12/2015).
 
FLNG adalah metode ekplorasi gas alam di lautan dengan menggunakan kilang gas alam terapung. Lewat metode ini, gas dieksplorasi, diproses, dijadikan LNG dan disimpan pada bangunan apung tersebut, sebelum diangkut dengan menggunakan kapal LNG ke terminal tujuan. Sedangkan OLNG adalah proses eksplorasi dengan membawa gas alam yang dihasilkan ke daratan terdekat melalui pipa yang digelar di dasar laut.
 
Pernyataan ketut sendiri merupakan respons dari kegalauan pemerintah yang hingga saat ini belum juga dapat memutuskan metode eksplorasi mana yang akan digunakan. Walhasil, pemerintah harus menyewa konsultan independen untuk melakukan berbagai kajian terhadap lapangan gas Abadi-Masela dengan harga sekitar Rp3,8 milliar. Padahal, menurut Ketut, kajian serupa sejatinya sudah beberapa kali dilakukan oleh pemerintah maupun kontraktor.
 
Ia mengatakan ada sejumlah faktor yang membuat penerapan teknologi FLNG lebih tepat digunakan di ladang gas abadi tersebut. Pertama adalah persoalan jarak pusat gas alam dengan daratan. Dikatakan, cadangan gas tersebut terletak cukup jauh dari daratan yakni sekitar 600 kilometer ke Kepulauan Aru atau 180 kilometer ke Saumlaki dengan kondisi berpalung pada kedalaman yang bervariasi hingga 2 ribu meter.
 
Kedua adalah faktor mobilitas. Menurut Ketut, keuntungan dari FLNG adalah kemampuan mobilitas. Artinya, jika kegiatan produksi gas di suatu tempat tertentu telah berakhir, pemerintah dapat memindahkan bangunan apung tersebut ke lokasi lain yang memiliki cadangan gas.
 
Misalnya, apabila kandungan gas di blok Masela telah habis, pemerintah dapat memindahkan bangunan apung tersebut ke wilayah lain yang memiliki kandungan gas besar seperti Natuna atau Selat Makassar.
 
Ketut mencontohkan pada kasus habisnya cadangan gas di PT Arun NGL, Lhokseumawe, NAD pada 2014 lalu. Imbasnya, investasi negara ayng telah dikeluarkan untuk membangun kilang LNG di Arun nampaknya tidak dapat dimanfaatkan lebih lanjut, semenjak PT tersebut berhenti beroperasi. “Lain ceritanya jika teknologi FLNG yang diterapkan di sana. Bangunan apung bisa dipindahkan ke tempat lain,” imbuh Ketut.
 
Lebih jauh Ketut juga menyesalkan tersebarnya isu bahwa teknologi FLNG tidak aman. Padahal FLNG adalah sebuah teknologi baru yang juga memiliki sebutan lain yaitu LNG-FPSO (Floating Production Storage and Offloading). Teknologi FPSO untuk produksi minyak dan juga gas adalah teknologi yang sudah terbukti (proven).
 
Perihal kondisi laut dan alam yang bisa berpengaruh negatif pada bangunan apung, Ketut menjawab teknologi bangunan apung itu sendiri dan sistem pengikatannya (mooring system) terbukti dapat menjawab keraguan soal faktor perubahan alam tersebut.
 
Sebelumnya pendapat berbeda disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli. Menurut dia, membangun bangunan apung raksasa di tengah laut membutuhkan biaya yang sangat besar.


(UWA)