Penghapusan Subsidi Ekspor Pertanian Kemenangan Negara Berkembang

Husen Miftahudin    •    Rabu, 23 Dec 2015 13:34 WIB
pertanian
Penghapusan Subsidi Ekspor Pertanian Kemenangan Negara Berkembang
Pertanian (ANTARA FOTO/Ahmad Subaid).

Metrotvnews.com, Jakarta: Konferensi Tingkat Menteri (KTM) dalam World Trade Organization (WTO) di Nairobi, Kenya beberapa waktu lalu telah berhasil menyepakati penghapusan subsidi ekspor pertanian bagi negara anggota WTO yang selama ini kerap diterapkan negara maju.

Menurut Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bachrul Chairi, kesepakatan tersebut merupakan kemenangan terbesar bagi negara-negara berkembang dan kurang berkembang atau Least Developed Countries (LDCs). Pasalnya, selama 20 tahun negara-negara berkembang dan LDCs memperjuangkan hal ini karena dianggap persaingan harga pangan global menjadi tak adil.

"Selama ini negara berkembang dan LDCs kan sering gencar menuntut adanya penghapusan subsidi ekspor pertanian yang diterapkan negara maju karena kebijakan subsidi ekspor negara maju ditenggarai mendistorsi pasar pertanian global," ujar Bachrul dalam media briefing hasil rangkaian kegiatan KTM ke-10 di kantor Kemendag, Jalan MI Ridwan Rais No 5, Jakarta Pusat, Rabu (23/12/2015).

Dia menjelaskan, penghapusan subsidi ekspor menyebabkan negara-negara maju tersebut merebut pasar yang ada karena harga yang ditawarkan menjadi lebih murah dibanding harga di pasar global.

Misal pada produk pertanian seperti beras dengan harga pasaran Rp10 juta per ton. Negara maju seperti Amerika Serikat (AS) menerapkan subsidi ekspor sebesar 10 persen, sehingga ketika dijual di pasar global, harga beras per ton milik AS menjadi Rp9 juta per ton. Hal inilah yang menyebabkan produk-produk pangan milik negara berkembang dan LDCs menjadi lesu dan sepi peminat.

Namun begitu, dalam kesepakatan Paket Nairobi tidak menyentuh subsidi yang ada di dalam negeri, karena sangat sensitif. Jadi, Paket Nairobi hanya menghapus subsidi ekspor dan tidak menyentuh subsidi pertanian yang ada di suatu negara seperti subsidi benih, pupuk, alat mesin pertanian dan sebagainya.

"Jadi kan sama. Semua negara menerapkan subsidi pertanian di dalam negerinya, tapi semua negara tidak boleh menggunakan subsidi ekspornya. Ini kan berdampak pada peningkatan kompetisi harga pangan global," pungkas Bachrul.


(SAW)