Tiga Bintang Iklan AntiKorupsi Partai Demokrat Terjerat Korupsi

- 10 Januari 2014 23:33 wib
Ist
Ist

Metrotvnews.com, Jakarta: Pertengahan Desember 2008, Partai Demokrat mengeluarkan iklan untuk memperingati Hari Antikorupsi se-Dunia, yang memiliki slogan "katakan tidak pada korupsi". Para Petinggi partai penguasa itu turut ambil bagian sebagai bintang dalam iklan video berdurasi 30 detik tersebut yang sering muncul di televisi.

Di adegan pertama iklan, tertulis "gelengkan kepala dan katakan", lalu muncul gambar Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono dengan mengangkat tangan kanannya dan menunjukan lima jarinya sambil mengatakan "tidak". Sesudah itu, muncul gambar mantan Politisi Partai Demokrat Teresia Pardede (Tere) yang juga mengelengkan kepala dan melambaikan tangan kanan sambil mengatakan "tidak".

Pada bagian kedua, tertulis "abaikan rayuannya dan katakan", dan muncul gambar Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sambil mengangkat kedua tangannya yang jarinya terbuka dan menyilangkan tangannya di dada serta mengungkapkan "tidak". Pada bagian ketiga, tertulis "tutup telinga dan katakan", lalu muncul gambar Mantan Wakil Sekretaris Jenderal PD Angelina Sondakh sambil mengangkat tangan kanan yang mengepal dan membalikan jempol sambil berkata "tidak".

Lalu muncul gambar pendiri Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang memegang kertas bertuliskan "katakan tidak pada korupsi". Tertulis, "Partai Demokrat bersama SBY melawan korupsi tanpa pandang bulu".

Di bagian penutup, muncul sosok Andi Alfian Mallarangeng sambil tersenyum mengangkat kedua tangannya dan menyatukan di atas kepala sambil membentuk lambang partai yaitu, mercy.

Tiga aktor dalam iklan itu, Anas, Angie, dan Andi, malah terseret dalam kasus korupsi. Paling anyar, KPK resmi menahan Anas dalam kasus tindak pidana korupsi penerimaan gratifikasi proyek pusat olahraga Hambalang.

Menurut Pengamat Komunikasi Politik Universitas Indonesia Tjipta Lesmana, iklan itu menunjukkan tidak adanya konsisten apa yang dikatakan dengan perbuatan. Demokrat yang bersumpah memerangi korupsi ternyata hanya slogan untuk kampanye 2009. Dalam kenyatannya, kata Tjipta, beberapa politisi Partai Demokrat justru melakukan korupsi yang menyebabkan suara partai tersebut anjok hingga menyentuh angka 7%.

"Faktor penting anjloknya Demokrat adalah kasus korupsi yang menghantam kader demokrat," katanya, Jumat (10/1).

Menurut Tjipta, iklan pencitraan tidak dapat dipercaya karena akan selalu seperti itu, apalagi bertepatan dengan momen kampanye politik. Mereka hanya jualan kecap dan merasa paling baik. Untuk itu, masyarakat harus kritis dan tidak mudah percaya dengan iklan politik, terutama dari partai politik dan politisi.

"Saya yakin dengan semakin banyak kasus korupsi yang menghantam kader Parpol, masyarakat sudah kritis dan tidak percaya janji-janji iklan. Publik akan cuek dan apatis melihat itu. Oleh karena itu, iklan seperti ini tidak akan lagi efektif untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Politisi dan Parpol harus merubah total stategi kampanye politiknya dengan cara yang nyata yaitu menemui langsung konsituen untuk bertanya tentang masalah dan keluhannya serta mencari jalan keluar," katanya. (Raja Eben)

()

Hamzah Haz--MI/Susanto

Hamzah Haz Hadiri Mukernas PPP

23 April 2014 15:47 wib

MANTAN Ketua Umum Partai Presatuan Pembangunan Hamzah Haz menghadiri Musyawarah Kerja Nasional PPP Ke-III,…