Ke Mana Pesawat MH-370 Mengarah

- 17 Maret 2014 19:05 wib
ANT/Irsan Mulyadi
ANT/Irsan Mulyadi

SUDAH lebih sepekan pesawat Malaysia Airlines MH-370 hilang tanpa jelas ujung rimbanya. Berbagai perkiraan muncul tentang hilangnya secara tiba-tiba pesawat berbadan lebar itu. Mulai dari meledak di udara hingga sekarang isu pembajakan.

Bagi keluarga para penumpang pesawat MH-370, semua perkiraan itu semakin menimbulkan tanda tanya yang membingungkan. Mereka semakin tidak mengerti bagaimana nasib sanak keluarga mereka yang sedang bepergian dari Kuala Lumpur menuju Beijing.

Berbagai spekulasi yang muncul menimbulkan pertanyaan besar kepada otoritas Malaysia. Bagaimana sistem keamanan bandar udara dan lalu lintas udara yang dijalankan negeri itu? Bagaimana mungkin pesawat besar seperti itu bisa menghilang secara tiba-tiba?

Inilah yang merupakan pukulan telak bagi pemerintahan Perdana Menteri Tun Najib Razak. Ternyata banyak kelemahan yang ada di Malaysia mulai dari lolosnya pengguna paspor palsu hingga kealpaan militer Malaysia untuk menjaga wilayah udara mereka.

PM Najib Razak membuat masyarakat dunia terhenyak ketika akhir pekan lalu mengungkap fakta bahwa ada komunikasi antara pesawat MH-370 dengan satelit hingga pukul 08.11 pagi hari Sabtu. Artinya pesawat itu masih terbang jauh, karena seharusnya mendarat di Bandara Beijing pada pukul 06.30 waktu setempat.

Pertanyaan yang muncul, kalau pesawat itu keluar dari jalur, seharusnya pesawat itu terdeteksi oleh radar. Kalau pesawat itu terbang tanpa pemberitahuan di wilayah Malaysia, seharusnya radar Angkatan Udara Malaysia bisa mendeteksinya.

Pemerintah Malaysia telah meminta bantuan 26 negara untuk mencari pesawat mereka yang hilang. Lokasi pencarian kini tidak lagi terpusat di kawasan Laut China Selatan, tetapi juga hingga ke Samudera Hindia di Barat Malaysia.

Kalau memang pesawat itu dibajak, sungguh aneh apabila tidak diketahui di mana lalu pesawat itu mendarat. Pesawat tipe 777-200 ER itu membutuhkan landasan minimal 5.000 meter untuk pendaratan. Itu hanya bisa dilakukan di lapangan terbang yang resmi, tidak mungkin mendarat di sembarang tempat.

Apalagi dengan teknologi satelit seperti sekarang ini, mustahil pesawat bisa disembunyikan. Pasti satelit milik negara-negara raksasa akan bisa memantau keberadaan dari pesawat Boeing tersebut.

Kasus hilangnya pesawat MH-370 memberikan pelajaran berharga bagi kita di Indonesia. Apalagi penerbangan udara menjadi sarana transportasi yang umum dipakai masyarakat. Ibaratnya, semua orang bisa bepergian dengan pesawat terbang sekarang ini.

Pemeriksaan di bandara harus dilakukan lebih saksama lagi. Kita tidak boleh menggampangkan persoalan. Semua prosedur pengamanan dan keselamatan tidak boleh lagi ditoleransi. Kita harus menjalankannya sesuai dengan aturan.

Apa boleh buat, demi keselamatan kita bersama, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Identitas dari pengguna angkutan udara harus jelas dan tidak boleh lagi dianggap enteng.

Termasuk perusahaan maskapai penerbangan harus terus meningkatkan profesionalisme mereka. Para awak pesawat harus terus ditingkatkan keterampilannya. Perawatan pesawat harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keselamatan penumpang harus menjadi yang utama.

Kita tentu berharap agar hal terbaik yang dialami para penumpang pesawat MH-370. Apalagi di sana ada tujuh warga negara Indonesia yang hendak bepergian ke Beijing untuk berbagai keperluan.

Spekulasi terakhir tentang kemungkinan adanya pembajakan, membuka harapan bahwa para penumpang masih selamat. Tetapi kita sungguh belum bisa menyimpulkan apapun, karena hilangnya pesawat Malaysia Airlines masih menjadi misteri besar. Kita masih harus menunggu akhir dari semua cerita ini.

(Dor)

Mata Najwa: Menuju Ke-7 (7)

30 Juli 2014 21:54 wib

Mata Najwa, Rabu (30/07/2014), di Mata Najwa kali ini dengan tema 'Menuju Ke-7', yang menayangkan kembali sejumlah episode di Mata Najwa tentang warna warni jalannya demokrasi saat pemilihan presiden dan juga perjalanan politik Joko Widodo sejak saat ia masih menjabat sebagai walikota Solo hingga kemudian hasil hitung cepat menunjukkan Jokowi sebagai presiden terpilih.