Kapal Berbahan Bakar Solar Air Sukses Lintasi 69 Pulau

Sidharta Arya Agung    •    Senin, 18 Aug 2014 17:26 WIB
Kapal Berbahan Bakar Solar Air Sukses Lintasi 69 Pulau
MURI menyerahkan penghargaan pada Rektor Universitas Trisakti atas keberhasilan menggunakan kapal nelayan berbahan bakar solar air, Ahad (17/8/2014)

Metrotvnews.com, Jakarta: Peneliti dari Universitas Trisakti (Usakti) sukses mengelilingi 69 pulau di Indonesia menggunakan kapal nelayan berbahan bakar solar air. Keberhasilan itu pun menorehkan rekor inovasi baru di Museum Rekor Indonesia (MURI).

"Hari ini Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mempersembahkan penghargaan terhadap Universitas Trisakti, yang telah membuat inovasi, yaitu mengelilingi dan mengibarkan bendera merah putih di pulau terbanyak dengan menggunakan kapal berbahan bakar bio diesel air. Untuk itu kami dari MURI mengapresiasi kegiatan tersebut pada hari ini bertepatan dengan perayaan HUT RI ke 69 atas prestasi dan karya anak bangsa yang dibuat oleh Universitas Trisakti,” ujar Deputi Manager MURI, Awan Raharjo di Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Senin (18/8/2014).

Aksi peneliti Trisakti itu untuk dilakukan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 RI. Selama berlayar, peneliti mengibarkan bendera Merah Putih di 69 pulau yang dilintasi.

Menurut Awan, aksi Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti tersebut merupakan rekor baru dan bertaraf internasional. "Selain mencatat peristiwa-peristiwa yang skalanya nasional, kami juga mencatat kegiatan-kegiatan  dengan rekor dunia. Setelah kami mensurvey dan mencari-cari informasi, di negeri lain ini belum ada para ilmuwan maupun para pelajar yang mampu menghasilkan inovasi seperti yang sudah dilakukan oleh Universitas Trisakti, oleh karenanya muri mempersembahkan piagam rekor dunia," jelasnya.

Dosen Teknik Mesin Usakti, Muhammad Hafnan, menjelaskan penelitian bahan bakar solar air itu melibatkan mahasiswa sejak 2002. "Tujuannya adalah untuk mengurangi zat NOX yang berbahaya dan dan asap hitam yang dihasilkan oleh pembakaran solar. Yang membedakan formula penemuan solar air kami dengan yang lainnya adalah bentuknya yang bening dan bersih, serta ketika didiamkan, tidak terpisah kembali. Formula inilah yang kita patenkan,  dan setelah diujicoba di mesin, hasilnya bagus," ujarnya.

Menurut Hafnan, penggunaan solar di Indonesia mencapai 40 juta liter per hari. Sehingga, inovasi mahasiswa Usakti itu diharapkan dapat menghemat penggunaan solar sebesar 30 persen atau 12 juta liter perhari.

"Oleh karenanya kami saat ini sedang melakukan penjajakan kerjasama dengan pertamina, dan sedang dalam tahap percobaan uji ketahanan 250 jam dengan Pertamina di Lemigas. Kedepannya kami juga akan terus meneliti agar kandungan airnya dapat diperbanyak," ujarnya.

Aditya Kristanto, mahasiswa Teknik Mesin yang masuk dalam penelitian, menyebutkan pelayaran berlangsung selama lima hari menggunakan dua kapal nelayan berbahan bakar solar air. Ternyata, penggunaan bahan bakar alternatif itu tak merusak mesin.

"Setelah kami bongkar dan periksa, kami menemukan bahwa mesin kapal tetap bersih dan tidak ada masalah apapun, ini membuktikan bahwa bahan bakar solar air ini aman untuk dipergunakan," jelasnya.

Aditya berharap penemuan solar air membantu mengurangi beban pengeluaran nelayan, menyusul pengurangan subsidi solar oleh pemerintah. "Setelah kami hitung, harga yang harus dikeluarkan lebih murah dibandingkan dengan harga solar biasa. Selain itu, penggunaannya lebih irit dibandingkan dengan solar biasa, suhu mesin juga lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan solar biasa serta lebih ramah lingkungan," paparnya.

 
(RRN)