Pentingnya Penguatan Integrasi Sosial Pascapilpres

Nurfajri BN    •    Minggu, 31 Aug 2014 12:10 WIB
pilpres 2014
Pentingnya Penguatan Integrasi Sosial Pascapilpres
Rekap akhir suara Pilpres 2014--Antara/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014 sangat berbeda dengan Pilpres sebelumnya. Terbelahnya dukungan sebagian besar masyarakat pada kubu kedua kandidat, sangat mencolok.

Agama, media, bisnis, pendidikan, militer, dan kalangan sipil berdiri dengan sangat yakin membela salah satu kelompok, dan kemudian berhadapan dengan rekan seorganisasi atau seprofesinya.

Kondisi keterbelahan sosial yang terjadi sejak pada musim kampanye itu, ternyata terus berlanjut hingga hari ini. Setelah Komisi Pemilihan Umum menetapkan hasil penghitungan resmi dan kemudian Mahkamah Konstitusi pada 20 Agustus 2014 juga menguatkan keterpilihan Jokowi-JK.

Direktur Riset Maarif Institute for Culture and Humanity, Ahmad Fuad Fanani, menilai fenomena keterbelahan sosial di masyarakat ternyata masih terus terjadi. "Kubu Prabowo-Hatta tampaknya masih belum menerima hasil Pilpres dan hal ini diikuti oleh para pendukungnya.

“Kontroversi dan keterbelahan sosial itu sepertinya menjadi babak lanjutan dari masa kampanye ketika polarisasi dalam masyarakat meningkat tajam, sesuatu yang tidak baik bagi kohesi sosial masyarakat Indonesia,” ujar Ahmad kepada Metrotvnews.com, Minggu (31/8/2014).

Setelah KPU dan MK menetapkan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, kata dia, semestinya bangsa ini kembali bersatu padu untuk memperkuat kohesi sosial yang kemarin banyak terbelah dalam dukung-mendukung pada dua kubu kandidat capres.

"Sebab selama masa kampanye Pilpres kita melihat maraknya kampanye hitam, politik transaksional, fitnah, konflik, dan beberapa intimidasi yang terjadi di beberapa daerah. Jika terus dibiarkan terjadi, praktik demokrasi yang kebablasan itu bisa mengarah pada retaknya integrasi sosial pada bangsa ini," tutur Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja seluruh Indonesia Pdt Dr Andreas A Yewangoe dalam kesempatan yang sama,

Andreas menambahkan, integrasi sosial bangsa yang sudah dengan susah payah dijaga oleh segenap rakyat Indonesia semenjak zaman sebelum kemerdekaan jangan sampai dibajak oleh kepentingan elite politik yang memanfaatkan fanatisme dukungan rakyat kecil.

Pilpres 2014 seharusnya dijadikan momentum bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mengendorkan egonya masing-masing guna menjalin kerja sama yang erat untuk kemajuan bangsa. Para pemimpin partai politik dan elite politik harus memberikan contoh yang bagus tentang bagaimana seharusnya menjalani sebuah kompetisi politik yang sehat dan kemudian mengakhirinya secara sportif juga.

"Mereka harus kembali berpikir dan bertindak untuk tujuan bersama, yaitu kesejahteraan rakyat dan kemajuan Indonesia. Oleh karena itu Pilpres jangan sampai menjadi turning point bagi bangsa Indonesia. Pilpres harus menjadi titik penting untuk melanjutkan pencapaian positif bangsa dan semakin menguatkan kerja politik bagi kesejahteraan rakyat," kata Andreas.

Indonesianis dari the Australian National University, Greg Fealy, pada kesempatan yang sama mengajak kelompok sipil agama harus bisa menjadi hakim dan pengawas yang adil pada proses politik ini, dan terus memberikan pendidikan politik pada rakyat agar tidak terjebak dalam fanatisme politik dan egoisme sektoral,” ujar Greg.


(LAL)