Mentawai Akhirnya Punya SMK

Fathia Nurul Haq    •    Senin, 08 Sep 2014 12:09 WIB
pendidikan
Mentawai Akhirnya Punya SMK
Seorang sikerei atau dukun pengobatan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat - Dok Ekspedisi Pelita Muda ITB

Metrotvnews.com, Mentawai: Masyarakat Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, bersuka cita menyambut kedatangan pejabat dari Jakarta. Tiga pemuda disiapkan di dermaga Tuapeijat sejak pagi, tiga yang lainnya menabuh gendang dari kulit ular dan kateubak, sedangkan tiga remaja putri membawa baki berisi rangkaian bunga.

Mereka melenggok Tari Turu menyambut Wakil Menteri Pendidikan, Musliar Kasim, di Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Dia menjadi menteri pertama yang menginjakkan kaki di Mentawai.

Musliar menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan SMK pertama di daratan kecil barat Sumatra itu. Hari yang amat bersejarah bagi warga Mentawai.

"Seperti mimpi, seorang Wakil Menteri bisa mengunjungi dan melihat secara langsung situasi di Kabupaten Kepulauan Mentawai ini," ujar Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Ahad (7/9/2014).

Indonesia merupakan negara yang amat kaya akan budaya, potensi alam, pariwisata dan sumberdaya manusia. Kepulauan mentawai yang dihuni oleh 80.000 warga merupakan salah satu buktinya.

Mereka bertani, berkebun, dan melaut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersahaja. Namun, sudah 69 tahun Indonesia merdeka, sebuah SMK baru didirikan untuk memfasilitasi impian warga mentawai.

"Kalau besar, saya ingin menjadi menteri," ungkap Rizky, seorang bocah 10 tahun asal mentawai.

Sederhana saja motivasinya. Ia ingin dapat mengendarai mobil sebagaimana seorang menteri yang dilihatnya hari itu.

Rizky, dan ratusan siswa mentawai kini bisa menatap masa depan yang cerah di hadapan mereka. Sebuah SMK dan akademi komunitas tengah dibangun di atas lahan seluas 10 hektare yang dihibahkan Suku Taikattubut Oinan di Desa Saureinu, Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Tidak ada anak Indonesia di manapun Ia berada, tidak tamat sekolah menengah. Untuk mewujudkan itu, upaya yang harus kita lakukan yang pertama harus ada gedung sekolahnya. SMK merupakan pilihan yang tepat untuk mentawai, karena disini belum ada SMK. Padahal sudah dicanangkan oleh pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, perbandingan SMA dan SMK itu 50:50," ujar Musliar.

Ia mengungkap bahwa SMK yang nantinya akan berdiri disana akan menyelenggarakan kejuruan Pertanian, Kelautan, dan Pariwisata, demikian juga akademi komunitas yang menyediakan pelayanan pendidikan setingkat D2.

" Kenapa kita mengejar pendidikan ini? Karena tidak ada satupun negara di dunia yang bisa maju tanpa memajukan pendidikan," katanya.


(JCO)