Murah Meriah, Cipas dan Cherrybelle Bertebaran

Marshalina Gita    •    Jumat, 05 Dec 2014 18:17 WIB
miras
Murah Meriah, Cipas dan Cherrybelle Bertebaran
Polisi menunjukkan barang berbagai jenis minuman keras dan oplosan saat gelar perkara di Mapolres Magelang, Jawa Tengah, Selasa (4/11/2014). ANT/Anis Efizudin

Metrotvnews.com, Sumedang: Minuman keras oplosan bertebaran di Sumedang. Warga, biasanya para pemuda, bisa mendapat minuman haram itu di warung-warung jamu atau depot khusus.

Namanya rupa-rupa. Ada Cipas, kependekan dari cai plastik, ginseng, maupun Cherrybelle. Warnanya pun beragam. Ada minuman berwarna kuning, biru, maupun bening.

"Sebenarnya mah banyak, ada di mana-mana. Sekarang mah depot-depot yang jualan jamu begitu juga ada," kata Erik, korban miras oplosan yang meringis kesakitan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumedang, Jalan Palasari, Jumat (5/12/2014).

Dia menenggak miras oplosan Cipas sebulan lalu. Tapi, kata Erik, pusing-pusing dan rasa sakit di tubuhnya belum juga reda. Ternyata, kandungan alkohol di minuman itu tinggi sekali. "Alkoholnya bisa 100%," ujar dia.

Erik pun bergidik ketika berita kematian akibat miras yang ditenggaknya merebak. Apalagi lihat angka penenggak yang tewas mencapai 10 orang di Sumedang dan 17 di Garut.

"Kapok. Pelajaran buat kita warga Sumedang," kata dia.

Minuman-minuman itu jelas diracik. Bahan oplosan pun bermacam-macam. "Suplemen, pewarna, alkohol, air 6,5 liter," kata DS, seorang pedagang miras oplosan yang sudah dibekuk aparat Kepolisian Resort Sumedang.

Dia sering berjualan di warungnya, kawasan Cipacing, Jatinangor, Sumedang. Sudah dua tahun dia berjualan miras di sana. Satu paket Cipas berisi seliter miras dijual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.

Lamanya rasa sakit yang diderita korban sehabis meminum miras itu bisa disebabkan alkohol dan methanol yang terkandung di dalamnya.

Menurut Eli, dokter yang menangani korban miras di RSUD Sumedang, methanol bisa merusak syaraf otak, saluran pernafasan, sehingga korban merasakan sesak dan kejang-kejang, sebelum meninggal.

"Tentunya dampaknya akan lebih buruk lagi terhadap kesehatan mereka. Karena dengan minum oplosan yang mengandung methanol kemudian diberikan lagi obat-obat penenang, itu akan bereaksi lebih buruk lagi dibandingkan kalau dia hanya minum methanol," kata Eli kepada Metro TV, Jumat (5/12/2014).

Januar Salman, dokter lain di RSUD Sumedang, menerangkan, sebagian besar korban keracunan alkohol. Akibatnya, organ-organ dalam tubuh korban mengalami kerusakan.

"Bisa mulai dari mata, kebutaan, kemudian kegagalan ginjal dan jantung, juga ke otak, paru-paru yang bisa menimbulkan kejang, koma, dan ada kegagalan pernafasan akut yang diakibatkan oleh alkohol," ujar dia.


(JCO)