Pasar Kosong Generasi Bluetooth

Fitra Iskandar    •    Kamis, 11 Dec 2014 11:30 WIB
feature showbiz
Pasar Kosong Generasi Bluetooth
MATINYA IKON MUSIK INDONESIA: Remaja mengenakan headset melintas didepan toko Aquarius Mahakam yang sudah Tutup. Foto: Dok MI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Iklim industri musik mengalami perubahan signifikan seiring dengan perkembangan internet dan ponsel cerdas. Para pelaku industri pun harus putar otak untuk bertahan.

Label rekaman Gema Nada Pertiwi, yang mengkhususkan diri pada genre tradisional dan lagu anak-anak juga  mencoba beradaptasi.  Sejak beberapa tahun lalu mereka mulai menjual lagu di berbagai layanan musik nonfisik  seperti iTunes, Nokia Mix Radio, Melon, dan Langit Musik.
 
Menurut Direktur label rekaman Gema Nada Pertiwi (GNP), Djakawinata Susilo, penjualannya lumayan. Dia enggan menyebut angka, namun katanya penjualan di 2014, naik dua kali lipat dari penjualan tahun sebelumnya.(KLIK: Keroncong Campur Jazz, Idealisme dan Industri)

Penurunan yang terasa justru dari  penjualan  album fisik. Djaka enggan merinci,  namun, kaset , CD, VCD dan DVD masih dikeluarkan ke pasar untuk  mencoba mengambil ceruk-ceruk yang tersisa. Pasarnya, masih ada, meski ada segmen  pasar  yang  sulit ditembus.

Djakawinata bercerita tentang  ‘mental gratis’ di kalangan remaja yang menurutnya membuat industri musik, khususnya penjualan album fisik mengalami kelesuan. Dia juga mengulas nasib kaset di ambang kepunahan.

Apa yang paling menarik untuk dibahas dari lesunya industri musik saat ini?

Ada pasar yang bolong di usia anak sekolah. Pada masa jayanya akhir 1990-an, toko musik penuh dengan anak SMP, SMA dan anak kuliah.  Dulu, Aquarius Mahakam (Jakarta), banyak sekolah di sana, juga seperti itu situasinya. Dulu kalau zamannya saya nongkrong, pulang  kuliah di Bandung, toko musik penuh sama anak sekolah.

Sekarang, era  Mp3,   anak sekarang,  siapa sih masih pake CD player. Mereka tinggal dengar musik dari ponsel.  Kalau ada lagu baru, mereka saling bagi dengan bluetooth . Beda pola konsumsinya.  Mungkin mereka berpikir lebih baik uangnya buat beli pulsa atau jajan.  Ini yang saya bilang menciptakan pasar yang kosong.Anak umur segitu tidak beli CD.

Di Kota besar, orang berusia 30-40 yang penghasilannya cukup  masih ke toko CD. Beda di daerah, yang laku VCD 10 ribu-an. Ini kan harganya murah mendekati dengan yang bajakan.  Memang marjinnya kecil banget sih. Jadi pasarnya  di level atas dan bawah. Untuk anak pelajar dan kuliah marketnya kosong.

Makanya kami berusaha mengedukasi, agar  ‘mental gratisan’ itu tidak berkembang.  Bayangkan kalau mental gratisan itu mereka bawa sampai dewasa, musisi dan artis makan dari mana. Padahal mereka keluar keringat untuk berkarya.





Bagaimana sih ceritanya industri  musik tumbuh di Indonesia di 20-30 tahun ke belakang?

Sebelum 1989 atau 1990, orang menggandakan kaset lagu barat tanpa lisensi.  Karena  tidak ada yang tahu soal perizinan, pemerintah pun begitu.  Saat Bob Geldof ke Indonesia, dia kaget, lagunya untuk amal kelaparan di Afrika, ternyata banyak dibajak di sini. Sejak itu, mulai banyak lisensi masuk seperti Sony, Warner Music, EMI untuk peredaran kaset musik barat di  Indonesia.

Sekarang  soal nasib kaset bagaimana?

Membajak kaset itu susah.  Hasilnya enggak akan sama dengan yang asli. Hasil pabrik dengan rumahan berbeda. Karena sedikit saja melenceng, pita dan head-nya, saat merekam, hasilnya pasti tidak sebagus kalau buatan pabrik.  Ongkos error-nya  besar.   Jadi pembajakan enggak terlalu laku. (KLIK: Toko Kaset di Samping Gerbang Tol Ciledug)

Zaman CD lain lagi, yang palsu dan yang asli, saat pertama diputar enggak ada bedanya.  Itu makanya,  zaman kaset, penghargaan itu diberikan kepada album-album yang terjual hingga jutaan kopi,  kalau CD paling ribuan kopi sudah dapat penghargaan.

Tahun 2000-awal kaset masih laku juga karena mobil-mobil baru masih pakai tape kaset, angkot juga begitu. Sekarang angkot, juga enggak pakai CD, mereka pakai flashdisk untuk putar musik. (KLIK: Sore Luncurkan Mini Album Format Kaset)

GNP masih jual kaset?

Sejak 2011, untuk rilisan baru tidak. Tetapi untuk  lagu-lagu lama, masih. Secara pasar sudah tidak pas angkanya. Kan sekali cetak harus ribuan. Itu berat. Pasarnya sudah tidak ada. Kalau produksi  ratusan masih bisa.(KLIK: Oke  Mana, Piringan Hitam, CD, Kaset, atau Mp3.

Kenapa untuk yang lama kaset masih ada? Saya  jalan ke  pengecer-pengecer,  di  luar Jakarta, mereka minta  kaset jangan dimatiin, masih ada yang cari.  (KLIK: Digilas Musik Digital, Kaset Tetap Diminati)

Kaset masih bisa bertahan?

Memang yang terakhir ada dua pabrik kaset.  HDX di daerah Daan Mogot sudah tutup. Yang terakhir PT Panggung  di daerah Sunter, Jakarta utara, sekitar  beberapa pekan lalu mengumumkan sudah tutup. Tetapi saya tanya mereka masih menerima pesananan, tetapi mesinnya sudah dikirim ke Surabaya.  Masih bisa produksi kaset, tapi saya jadi harus ngitung-ngitung lagi, karena ada ongkos kirim  yang bertambah.

Tetapi ngomong soal kaset, itu industri yang sudah mendekati usia akhir. Saya kira 2-3 tahun lagi habis.


(FIT)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA