Ada Tiga Kandidat Kuat Pengganti Sultan HB X

Patricia Vicka    •    Senin, 23 Mar 2015 16:58 WIB
<i>Ada Tiga Kandidat Kuat Pengganti Sultan HB X</i>
Sri Sultan Hamengkubuwono X, MI/ Susanto

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Suksesi Raja Kesultanan Yogyakarta menimbulkan polemik di antara DPRD dan masyarakat Jogja akhir-akhir ini. Dosen Politik dan Pemerintahan Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Bayu Dardias K pun menjadikan polemik itu sebagai bahan penelitian tesisnya.

Dari hasil tesis, Bayu menilai menilai ada tiga calon kandidat kuat yang berpeluang besar menjadi pengganti Sultan Hamengkubuwono X (HB X).

"Kandidat pertama Putri pertama Sultan HB X GKR Pembayun, Kedua KGPH Hadiwinoto dan terakhir GBPH Prabukusumo," ujarnya saat pemaparan hasil thesisnya yang berjudul Politik Keistimewaan Yogyakarta : Harta, Tahta dan Perebutan Kekuasaan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Senin (23/3/2015).

Menurutnya, dua syarat utama penerus Sultan. Pertama ia adalah harus keturunan raja. Kedua biasanya yang terpilih jadi raja adalah anak pertama dari Sultan.

"Tiga kandidat ini adalah keturunan raja. KGPH Hadiwinoto adalah adik Sultan HB X. Sedangkan GKR Pembayun adalah Putri tertua Sultan HB X. Sedangkan GBPH Prabukusumo adalah anak tertua selir Sultan HB IX," kata jebolan Australian National University (Anu).

Sebenarnya, lanjut ia ada 17 kandidat lainnya yang punya peluang meneruskan tahta kerajaan Sultan HB X. Namun tiga kandidat di atas adalah calon kuat karena sudah memenuhi kedua syarat yang ia sebutkan.

"Sultan HB X punya lima putri. Lalu Sultan HB IX punya 15 anak putra dan putri. Kurang lebih ada 20 kandidat. Lalu dikerucutkan yang paling besar peluangnya hanya 3 orang," ujar Bayu.

Namun ketika disinggung siapa calon terkuat dari ke tiga kandidat, ia tak dapat memastikannya karena ketiganya punya keistimewaan.

"Kalau dliat dari pangkat yang paling kuat KGPH Hadiwinoto. Kalau dilihat dari garis keturunan adalah GKR Pembayun. banyak yang mendukung Pembayun jadi Sultan. Tapi jika dia yang terpilih, bisa jadi garis keturunan darah sultan Jogjakarta akan hilang. karena di Yogyakarta masih kuat garis Primodial," jelas pria yang menggunakan batik biru ini.

 
(RRN)