Asal Mula Kawasan Roxy dan Harmoni

Hardiat Dani Satria    •    Kamis, 23 Apr 2015 11:22 WIB
metropolitanlegenda
Asal Mula Kawasan Roxy dan Harmoni
ITC Roxy Mas, pusat perdagangan ponsel terbesar di Indonesia.

Metrotvnews.com, Jakarta:  Mungkin ada yang penasaran dan ingin tahu tentang apa yang melatarbelakangi suatu kawasan di sepanjang Jalan KH Hasyim Ashari, Kelurahan Cideng, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat bisa dikenal sebagai daerah Roxy. 

Memang di wilayah ini terdapat pusat perdagangan ponsel terbesar di ibukota, bahkan di Indonesia. Adalah ITC Roxy Mas yang berada di Jalan KH Hasyim Ashari itu tersohor sebagai pasar ponsel yang volume penjualannya ditengarai hingga ribuan unit dalam sehari. Maka, tak heran jika tempat ini menjadi salah satu magnet bisnis dengan perputaran uang yang luar biasa.

Namun, bukan mal itu yang membuat kawasan ini disebut Roxy. Budayawan Betawi, Alwi Shahab, menyatakan bahwa kawasan ini dulunya merupakan pusat rekreasi masyarakat, bukan sentra bisnis seperti sekarang.

Menurut dia, beberapa nama kawasan di Jakarta terkait dengan sejarah tempat hiburan. Salah satunya adalah Roxy.

Ia menjelaskan, pada era penjajahan Belanda awal abad ke-19 film dan bioskop merupakan hiburan baru yang langsung digandrungi oleh masyarakat. Pengusaha di ibukota pemerintahan saat itu pun seolah tak mau ketinggalan momentum ledakan budaya ini, sehingga didirikanlah bioskop-bioskop di Batavia. Salah satunya adalah bioskop Roxy.

"Mulai berdatangan film-film. Saat itu film merupakan hiburan yang paling digemari, maka banyaklah Belanda-Belanda yang mendirikan bioskop begitu. Nah, di antara banyak bioskop yang namanya masih terkenal sampai sekarang adalah Roxy. Jadi, nama Roxy itu berasal dari nama bioskop Roxy,"  ujar Alwi saat berbincang dengan Metrotvnews beberapa waktu lalu di Jakarta.

Menurut Alwi, fenomena laris manisnya tiket bioskop yang memutar film-film impor dari Amerika sudah terjadi sejak jaman dulu. "Seperti film-film koboi begitu, itu dulu merupakan hiburan paling digemari di Jakarta. Bahkan, orang Belanda kalau datang ke bioskop biasanya ramai-ramai," kata Alwi.

Namun, meski bioskop Roxy Theatre kemudian ditutup pada kisaran tahun 2000 dan gedungnya digusur, kawasan itu tetap dikenal sebagai Roxy.

"Sekarang nama Roxy itu masih melekat meskipun bioskopnya sudah enggak ada," kata Alwi.

Hal serupa juga terjadi pada kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Gedung Harmoni didirikan pada tahun 1810 dan resmi dibuka pada 1868 sebagai tempat hiburan di Batavia yang khusus bagi grup orang-orang Belanda. Jadi, boleh dibilang pembangunan Gedung Harmoni kala itu dilandasi sikap sinis orang Eropa abad ke-19, karena mereka ingin punya arena rekreasi yang tidak berbaur dengan penduduk pribumi Hindia.

Sejarah mencatat diskriminasi tersebut dengan bukti orang Belanda tidak mengizinkan pribumi untuk duduk dan bersenang-senang di Harmoni. 

"Orang Belanda membikin klub atau perkumpulan, tapi mereka tidak mau orang pribumi ikut bermain bersama-sama mereka," kata Alwi.

Pada bulan Maret 1985, gedung Harmoni dirobohkan untuk pelebaran jalan dan tempat parkir kantor Sekretariat Negara. Namun, nama Harmoni tetap melekat sebagai destinasi yang merujuk pada kawasan di ujung Jalan Veteran dan Jalan Majapahit di Jakarta Pusat tersebut.

"Meskipun gedungnya itu sudah digusur, tapi sampai sekarang kan orang kalau ditanya mau ke mana lalu dijawab mau ke Harmoni, kita tahu kan maksudnya kawasan itu di mana," kata Alwi.





(ADM)