BPK: Anggaran Pemilu 2013-2014 Bermasalah Sampai Rp325 Miliar

Surya Perkasa    •    Kamis, 04 Jun 2015 22:39 WIB
pemilu 2014
BPK: Anggaran Pemilu 2013-2014 Bermasalah Sampai Rp325 Miliar
Anggota BPK Agung Firman Sampurna (Foto: Antara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan unsur ketidakpatuhan dalam anggaran pelaksanaan pemilu 2013-2014. Ketidakpatuhan anggaran di Pileg dan Pilpres tersebut mencapai Rp325 Miliar.

"Hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu, tematik terhadap penyelenggaraan Pileg dan Pilpres. Salah satu temuannya adalah Ketidakpatuhan terhadap UU. Rp325 miliar adalah total keseluruhan," terang anggota BPK Agung Firman Sampurna di Kompleks Parlemen senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2015).

Walau tidak bisa dikatakan sebagai penyimpangan anggaran, namun ada indikasi kerugian negara dalam ketidakpatuhan ini. Setelah di breakdown (kaji mendalam) ada beberapa permasalahan dalam anggaran pelaksanaan pemilu oleh KPU.

"Ada indikasi kerugian negara, potensi kerugian negara, macem-macam. Ketidakpatuhan itu angkanya sebesar itu," kata Agung.

Dewan Minta BPK Audit Penganggaran Pilkada KPU

Komisi II DPR menanggapi permasalah penggelembungan dana pemilu ini. Rekan kerja KPU di dewan ini khawatir akan ada penggelembungan dana di Pilkada serentak 2015. Komisi II DPR berharap BPK untuk melakukan audit terhadap KPU. Selain anggaran Pilkada, Peraturan KPU (PKPU) juga diharapkan dapat diaudit.

"Auditnya agak mendalam. Kan DPR biasa meminta audit kerena bukan hanya uang tapi peraturan juga," kata Wakil Ketua Komisi II DPR Lukman Edy.

Sebelumnya BPK telah menyampaikan hasil audit pelaksanaan anggaran pemilu 2014 yang diselenggarakan KPU. Namun untuk aturan, setelah komunikasi beberapa waktu lalu, BPK meminta waktu untuk melakukan audit terhadap KPU. "Untuk audit peraturan BPK belum keluar kerena mereka (BPK) minta waktu," ujar dia.

Komisi II DPR berharap, KPU harus menyesuaikan anggaran dengan Peturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri). “Intinya disesuaikan dengan Permendagri jangan sampai keluar (terjadi penggelembungan). Tapi, kami belum dapat evaluasi terakhir ya," kata dia.


(ALB)