Pengamat: Indonesia Tidak Sedang Menghadapi Musuh

Tri Kurniawan    •    Rabu, 14 Oct 2015 12:08 WIB
bela negara
Pengamat: Indonesia Tidak Sedang Menghadapi Musuh
Antara Foto

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat politik Karim Suryadi menilai program bela negara tidak perlu. Dia menilai, Indonesia tidak sedang menghadapi musuh seperti Korea Utara.

Pada dasarnya, Karim setuju bahwa bela negara harus dilatih karena tidak ada orang yang lahir dengan bela negara yang bagus. Ia mulai mempertanyakan program ini ketika dikaitkan dengan revolusi mental.

"Kalau memang tujuannya untuk revolusi mental yang jadi leading sector bukan Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan tapi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia," kata Karim dalam program Primetime News Metro TV, Selasa 13 Oktober.

Kemudian, lanjut Karim, kalau tujuan bela negara untuk membentuk nilai kecintaan pada Tanah Air, sadar berbangsa dan bernegara, rela berkorban, memiliki kemampuan awal bela negara, disiplin yang bagus, dan mampu bekerja sama, peserta tidak perlu dibawa ke markas resimen induk militer (rindam).

Dalam Undang-Undang tentang Pertahanan Negara Pasal 9 ayat 1 disebutkan setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta bela negara yang diwujudkan melalui pertahanan negara.

Di Ayat 2 disebut bahwa bela negara diwujudkan dalam empat aspek saja, pertama pendidikan kewarganegaraan, kedua pendidikan dan latihan dasar militer, pengabdian melalui TNI, dan melalui profesi masing-masing. "Tidak ada melalui bela negara," ujar Karim.

Dia menilai pendidikan kewarganegaraan, pengabdian TNI, dan pengabdian profesi masing-masing, sudah cukup untuk menumbuhkan nilai-nilai yang ingin dicapai melalu program bela negara.

"Boleh saja ada bela negara tapi harus kontekstual apalagi menyangkut profesi. Di kalangan kampus sudah bukan lagi pendidikan karakter tapi karakter yang berbasis profesi masing-masing," kata dia.

Dia mencontohkan, pendidikan karakter pada mahasiswa kedokteran sangat berhubungan dengan profesi dokter. "Lebih baik memberikan isi pada konteks yang ada," ujarnya.

Menurut Karim, Indonesia sedang membangun infrastruktur dan perekonomian. Dia tidak menampik ancaman militer harus tetap diwaspadai. Namun, Karim mengutip berbagai analisis bahwa aksi militer ke Indonesia sangat kecil.

"Kita tidak sedang memikirkan menghadapi musuh seperti Korea Utara," tegasnya.

Karim mengatakan, ancaman terhadap Indonesia adalah peredaran narkoba dan konflik berlatar belakang suku, agama, dan ras.

Dia heran, saat pemerintah berpikir memacu perekonomian dan membangun infrastruktur ada yang berpikir seakan Indonesia akan menghadapi musuh besok. "Persoalannya lebih ke cara bepikir," kata Karim.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Djundan Eko Bintoro kader bela negara disiapkan bukan untuk menghadapi ancaman militer. "Tetapi ada ancaman nonmiliter sesuai tugas pokok masing-masing," ujar Djundan.

Kementerian Pertahanan akan menyelenggarakan pelatihan bela negara serentak di 45 kabupaten dan kota pada Senin 19 Oktober. Target tahun ini merekrut 4.500 peserta. "Mereka harus jadi penyelenggara di tahun berikutnya," kata Djundan.


(TRK)