Operasi Tinombala di Ujung Tanduk, Santoso Belum Dibekuk

Nur Azizah    •    Selasa, 12 Apr 2016 15:04 WIB
teroris
Operasi Tinombala di Ujung Tanduk, Santoso Belum Dibekuk
Prajurit TNI dari Kesatuan Raider menyiapkan senjata sebelum menuju Poso, Sabtu 23 Januari 2016. Seribu tentara terlibat memburu Santoso. Antara Foto/Basri Marzuki

Metrotvnews.com, Jakarta: Operasi untuk menangkap Santoso alias Abu Wardah bersandi Tinombala akan berakhir Mei. Namun hingga saat ini, prajurit gabungan TNI dan Polri belum mampu menangkap buruan.

Santoso diburu sejak 2007. Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur itu diduga terlibat aksi terorisme di beberapa tempat di Indonesia. Bahkan, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat memasukkan namanya dalam daftar teroris global.

Catatan Kepolisian, Santoso sempat mengikuti pelatihan militer di pegunungan Jalin Jantho, Aceh, pada 2010. Januari 2011, ia membentuk pelatihan militer di pegunungan di Poso, Sulawesi Tengah.

TNI dan Polri membentuk Operasi Camar Maleo untuk menangkap Santoso yang dimulai pada Januari 2015. Selama Operasi Camar Maleo I hingga IV prajurit menangkap 24 terduga teroris.


Personel Brimob dengan senjata lengkap saat Operasi Camar Maleo II di Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu 16 Mei 2015. Antara Foto/Zainuddin MN


Target Gagal

Santoso masih berkeliaran. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti sempat mengatakan tim gabungan berhasil mendeteksi tempat persembunyian Santoso. Tim mengetahui Santoso sempat menempati camp di pegunungan di Poso pada 17 Agustus 2015.

"Sudah diketahui," kata Kapolri, Jumat 21 Agustus 2015.

Sebulan kemudian, Kapolri menargetkan bisa menangkap Santoso pada tahun itu. Namun, hingga Operasi Camar Maleo tutup buku pada 9 Januari 2016, tim gabungan belum mampu menangkap Santoso.

Dari sekian kali baku tembak tentara dan polisi dengan kelompok ini, tidak ada nama Santoso dalam daftar korban. Lalu, TNI dan Polri bersatu padu mengejar Santoso dengan membentuk Operasi Tinombala.

Santoso Disebut Terjepit

Operasi Tinombala melibatkan 3.000 personel. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Charlian, Senin 4 April, mengatakan, tim sudah mengepung Santoso. Santoso dan anak buah diperkirakan tidak bisa ke luar Poso.

"(Semua) Akses sudah ditutup," ujar Anton.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan Santoso dalam kondisi terdesak. Ia pun yakin Satuan Tugas Tinombala segera menangkap Santoso. "Tinggal tunggu waktu saja."

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan menyebut kelompok teroris Santoso tak lagi solid. "Mereka terpecah menjadi tiga kelompok. Kami masih mengejar," kata Luhut.


Tito Karnavian saat dilantik menjadi Kepala BNPT. Pada 2009-2010, pria kelahiran Palembang ini menjabat Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror. Antara Foto/Yudhi Mahatma

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Pol Tito Karnavian mengatakan, jumlah anggota kelompok Santoso yang masih bertahan 29 orang dari semula 41 orang. Sedangkan etnis Uyghur yang semula enam orang, tersisa dua orang. Sisanya tewas dalam baku tembak.

Medan Berat

Operasi Tinombala dimulai 10 Januari dan sedianya berakhir 9 Maret, kemudian diperpanjang hingga Mei. Masih ada waktu lebih dari setengah bulan untuk tim gabungan menangkap Santoso.

Tito tidak bisa menjamin kapan Santoso ditangkap. Ia mengatakan, medan persembuyian Santoso sangat sulit disentuh.

"Medannya ideal untuk gerilya karena hutannya sangat lebat. Medannya sangat berat sekali," kata Tito di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (12/4/2016).

Anton Charliyan pun mendapat informasi demikian. Ia mengatakan tim gabungan butuh tiga hari untuk bergerak dalam jarak tiga kilometer. Tim tidak bisa memantau pergerakan kelompok Santoso melalui teknologi informasi karena sinyal minim.

Kecelakaan truk yang mengangkut prajurit dari kesatuan Yonif Linud 433/JS/Brigif III Kostrad Makassar jadi salah satu bukti sulitnya medan persembunyian Santoso. Truk masuk jurang saat menyisir tempat persembunyian Santoso hingga menyebabkan lima tentara meninggal dan 17 terluka.

Kelompok Santoso diduga telah membunuh puluhan warga sipil dan polisi. Pada Oktober 2012, kelompok ini diduga menyandera dua anggota Polsek Poso Pesisir, Bripka Andi Sappa dan Bripda Sudirman.

16 Oktober 2012, keduanya ditemukan tewas mengenaskan dalam satu lubang di Dusun Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara.


Polisi olah tempat kejadian perkara penembakan warga diduga oleh kelompok sipil bersenjata di Sanginora, Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Selasa 9 Februari 2016. Antara Foto/Bayu

Pada 20 Desember di tahun yang sama, Santoso Cs menyerang delapan anggota Brimob Polda Sulteng yang tengah patroli sepeda motor di Desa Kalora, Tambarana, Poso Pesisir. Empat polisi tewas atas nama Briptu Ruslan, Briptu Wayan Putu, Briptu Winarto dan Bripru Siswandi.

Pada Sabtu 27 Desember 2014, tiga warga Kecamatan Lore, Poso disandera kelompok Santoso, dua tewas dan satu berhasil meloloskan diri.

Januari 2015, Warga Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, dikejutkan mayat korban mutilasi. Korban diketahui Heri Tubio alias Papa Oi.

Warga juga menemukan Tomi Alipa, 22, dan Aditya Sauli Tetembu, 51, tewas dengan luka tembak. Pembunuh ketiganya lagi-lagi diduga Santoso. Sebab, sehari sebelum ditemukan tewas, 16 Januari, Heri disandera kelompok Santoso.


(TRK)