Menerangi Pelosok Nusantara dengan Buku

Pelangi Karismakristi    •    Rabu, 22 Mar 2017 07:42 WIB
bukuuntukindonesia
Menerangi Pelosok Nusantara dengan Buku
Peran para orang tua sangat besar dalam menumbuhkan kegemaran membaca (Foto:Nlb.gov.sg)

Metrotvnews.com, Jakarta: Suatu bangsa akan maju jika generasi mudanya cerdas dan berilmu. Untuk menjadi cerdas dibutuhkan kemauan dan kemampuan menyerap ilmu pengetahuan. Salah satu caranya, dengan membaca buku.

Melalui buku, jutaan ilmu pengetahuan dapat diperoleh, wawasan akan bertambah, dan daya intelektual kian terasah. Oleh karena itu, kegemaran membaca buku perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Selain buku pelajaran di sekolah, anak-anak dapat memetik lebih banyak pengetahuan melalui buku penunjang sarana belajar.

Namun faktanya, belum semua anak mendapat kesempatan yang sama untuk mengakses buku penunjang sarana belajar. Di Indonesia, kondisi ini banyak ditemui di daerah di luar Pulau Jawa. Penyebabnya beragam.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas menjelaskan penyebab anak-anak di daerah pelosok kesulitan mengakses buku.

"Mereka kesulitan mendapatkan buku. Kalau tidak ada buku, apa yang mau dibaca? Begitu juga kalau gizinya buruk, maka minat baca mereka juga menjadi tidak ada, karena baru mau membaca saja sudah mengantuk. Selain itu, ketersediaan listrik juga harus diperhatikan. Aliran listrik di sana itu belum sebagus di Pulau Jawa. Kalau listrik mati, tentu mereka tidak bisa membaca," ujar Darmaningtyas.

Selain buku-buku pelajaran atau buku paket, penting juga bagi siswa Indonesia untuk membaca buku bacaan lainnya seperti buku penunjang belajar.

"Perlu juga buku penunjang lainnya seperti buku bacaan, pengetahuan umum. Dulu tahun 70-80 itu ada, tapi sekarang tidak ada lagi. Kami berharap pihak terkait akan lebih peduli pada penerbitan buku bacaan untuk anak-anak sampai jenjang perguruan tinggi. Dengan kepedulian ini, InsyaAllah anak-anaknya juga akan baik," kata Darmaningtyas.

Keterbatasan akses memperoleh buku juga disebabkan oleh mahalnya harga buku. Hal itu dikatakan oleh Duta Baca Indonesia 2011-2015, Andy F Noya.

"Kami berharap pajak untuk kertas diturunkan sehingga buku menjadi murah. membuatJika  harga buku murah, maka akses untuk mendapatkan buku menjadi lebih mudah. Apalagi, jika memanfaatkan kemajuan teknologi yang berkembang sekarang," kata Andy, dalam wawancara dengan Metrotvnews.com, belum lama ini.

Masyarakat di daerah terpencil, lanjut Andy, sebenarnya memiliki minat baca yang tinggi, namun mereka kesulitan memperoleh buku. "Ketika saya datang ke berbagai daerah, saya melihat betapa anak-anak haus akan bacaan, tetapi bacaan yang tersedia terbatas sekali," imbuh pembawa acara program TV Kick Andy ini.

Pernyataan senada dilontarkan Pendiri Taman Bacaan Pelangi, Nila Tanzil. Perempuan ini mendirikan 54 perpustakaan di 15 pulau di Indonesia, mulai dari Lombok sampai Papua. Dia telah berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia dan bertemu dengan banyak anak dari daerah yang haus akan buku bacaan.

Nila mendapati anak-anak di daerah kesulitan mendapatkan buku bacaan yang berkualitas. Terutama di Indonesia bagian Timur yang notabene masih memiliki infrastruktur terbatas. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang masih buta huruf dan berkemampuan baca rendah.

"Di desa-desa yang pernah kami singgahi memang tidak ada perpustakaan sama sekali. Akses buku benar-benar tidak ada, toko buku pun tidak ada. Jadi, bagaimana anak-anak bisa cinta baca, kalau bukunya saja tidak ada?" ujar Nila menekankan.

Melihat kenyataan tersebut, perempuan berambut pendek ini tergerak mendirikan Taman Bacaan Pelangi dengan harapan dapat memfasilitasi anak-anak di pelosok negeri untuk memperoleh pengetahuan.

Melalui Taman Bacaan Pelangi, Nila berupaya menyediakan buku bacaan yang sesuai untuk anak-anak SD, dan membantu menumbuhkan minat baca dengan program-program yang menarik. Buku yang dihadirkan pun beragam, mulai dari cerita dongeng, fabel, hingga ensiklopedi anak.

"Tujuannya untuk menumbuhkan minat baca, caranya dengan menyediakan buku menarik dan banyak gambar. Kebayang kan, kalau anak yang belum pernah baca disodori buku yang dipenuhi teks. Mana mau dia membaca? Maka dari itu, kami menstimulasi dengan buku-buku yang menarik untuk dibaca anak usia 5-13 tahun. Orang dewasa seperti orang tuanya, juga boleh meminjam, dan biasanya mereka membawa pulang bukunya, lalu membacakannya untuk anak-anak," jelasnya.

Ibu satu anak ini tak menampik bahwa di antara daerah terpencil yang pernah dikunjunginya terdapat beberapa sekolah yang memiliki perpustakaan. Namun, tak dijumpai buku di dalamnya. Sekalinya ada buku, hanya buku pelajaran.

"Buku pelajaran memang penting, tapi kalau ingin menanamkan minat baca itu harus buku yang sesuai dengan anak-anak. Menurut saya, pilihan buku juga perlu diperbaiki. Jika ada dana untuk gedung, sebaiknya disediakan juga dana untuk menyediakan buku cerita," ucapnya.

Di samping pemerintah, rendahnya minat baca masyarakat Indonesia juga menjadi tanggung jawab masyarakat. Dalam hal ini, peran para orang tua sangatlah besar. Kegemaran membaca harus dimulai dari lingkaran keluarga. Jika orang tua tidak suka membaca, anak-anak pun tidak akan suka membaca. Mari wujudkan generasi penerus bangsa yang lebih baik dengan menggiatkan gemar membaca.


(ROS)