Kerentanan Kanker Paru Dipengaruhi oleh Faktor Risiko

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 06 Feb 2018 18:15 WIB
kanker paru
Kerentanan Kanker Paru Dipengaruhi oleh Faktor Risiko
"Gejala yang muncul pada kanker paru biasanya batuk lebih dari dua minggu, sesak napas, nyeri dada, dan batuk darah," jelas ahli paru dr. Elisna Syarifuddin, Sp. P(K), PhD, dari RSUP Persahabatan. (Foto: David Preston/Unsplash.com)

Jakarta: Kanker paru adalah gangguan pernapasan yang umumnya ditemukan saat sudah berada di stadium lanjut. Gejala yang tak signifikan membuat penderita tak menyadarinya hingga sudah berada di tahap parah.

Padahal, penyakit ini menunjukkan gejala saat memasuki stadium awal yang sering kali diremehkan.

Deteksi dini kanker paru sendiri bisa dilakukan dengan mengategorikan berdasarkan faktor risiko terlebih dahulu: kelompok berisiko, kelompok berisiko tinggi, dan bukan kelompok berisiko.

Kelompok pertama adalah mereka yang umumnya perokok, baik aktif, mantan, maupun pasif; dengan rentan usia di atas 40 tahun. Kemudian, kelompok kedua adalah kelompok berisiko tinggi yang merupakan kelompok berisiko dengan gejala.


("Gejala yang muncul pada kanker paru biasanya batuk lebih dari dua minggu, sesak napas, nyeri dada, dan batuk darah," jelas ahli paru dr. Elisna Syarifuddin, Sp. P(K), PhD, dari RSUP Persahabatan. Foto: Andrew Neel/Unsplash.com)

(Baca juga: Persentase Tertinggi Kanker Paru Nasional Terdapat di Yogyakarta)

"Gejala yang muncul biasanya batuk lebih dari dua minggu, sesak napas, nyeri dada, dan batuk darah," jelas ahli paru dr. Elisna Syarifuddin, Sp. P(K), PhD, dari RSUP Persahabatan dalam forum kesehatan, Selasa 6 Februari 2018.

Sementara, gejala di luar respirasi yang umumnya muncul adalah berat badan menurun drastis, muncul benjolan di bagian tubuh terutama leher dan dada, dan malaise (lemas).

Terakhir, kelompok tidak berisiko yang meskipun aman secara lingkungan, sebaiknya diberikan edukasi agar lebih waspada terhadap penyakit tersebut.

"Kelompok berisiko sebaiknya melakukan check up paru setiap satu tahun sekali untuk mengantisipasi adanya kanker paru," demikian dr. Elisna menyarankan. 








(TIN)