Sandiwara Dokter Bimanesh dalam Kasus Novanto

Damar Iradat    •    Kamis, 08 Mar 2018 14:45 WIB
setya novanto
Sandiwara Dokter Bimanesh dalam Kasus Novanto
Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo. Foto: Antara/Rosa Panggabean

Jakarta: Dokter Bimanesh Sutarjo didakwa melakukan tindakan merintangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek KTP-el yang menjerat Setya Novanto. Ia diduga bekerjasama dengan advokat Fredrich Yunadi agar Novanto tak diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
"Terdakwa Bimanesh Sutarjo patut diduga melakukan rekayasa agar Setya Novanto dirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau dalam rangka menghindari pemeriksaan oleh penyidik KPK," kata Jaksa Kresno Anto Wibowo saat membacakan surat dakwaan terhadap Bimanesh di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis, 8 Maret 2018.
 
Jaksa Kresna mengatakan, keterlibatan Bimanesh dalam perkara ini bermula saat Fredrich menghubunginya pada 16 November 2017. Bimanesh dan Fredrich diketahui sudah saling kenal sejak lama.
 
Dalam komunikasi itu, Fredrich yang saat itu masih menjadi pengacara Novanto meminta bantuannya agar Novanto dapat dirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Fredrich lalu meminta agar Novanto didiagnosa beberapa penyakit, salah satunya hipertensi.

Baca: Menkes Minta IDI Gandeng KPK Usut Bimanesh
 
Kemudian, masih pada hari yang sama, sekitar pukul 14.00 WIB, Fredrich menemui Bimanesh di kediamannya di Apartemen Botanica Tower 3/3A, Simprug, Jakarta Selatan dalam rangka memastikan agar Novanto dapat dirawat inap di RS Medika Permata Hijau.
 
"Fredrich juga memberikan Bimanesh foto data rekam medik Novanto dari RS Premier Jatinegara sebagai bahan diagnosa bagi Bimanesh untuk rawat inap Novanto," tutur jaksa.
 
Dokter kelahiran New Delhi itu kemudian menyanggupi permintaan Fredrich. Padahal, ia mengetahui Novanto sedang terbelit masalah hukum di KPK.
 
Selanjutnya, Bimanesh menghubungi Dokter Alia selaku pelaksana tugas (Plt) Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau agar menyiapkan ruang VIP untuk rawat inap Novanto. Dalam komunikasi tersebut, Bimanesh meminta agar Alia tidak memberitahukan hal tersebut kepada Direktur RS Medika Permata Hijau, Dokter Hafil Budianto Abdulgani.
 
Kemudian, keesokan harinya, sekitar pukul 18.30 WIB, Bimanesh datang ke RS Medika Permata Hijau untuk menemui Dokter Michael Chia Cahaya, selaku dokter jaga di IGD. Kepada Michael, ia menanyakan keberadaan Novanto di ruang IGD.
 
"Saat itu, Dokter Michael menjawab Novanto belum datang, dan hanya Fredrich Yunadi yang datang untuk meminta surat pengantar rawat inap dari IGD dengan keterangan kecelakaan mobil, tapi ditolak Dokter Michael," lanjut jaksa.
 
Atas penolakan tersebut, Bimanesh membuat surat pengantar rawat inap menggunakan form surat pasien baru IGD. Pada surat tersebut, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi itu menuliskan diagnosa hipertensi, vertigo, dan diabetes melitus terhadap Novanto.
 
Kemudian, sekitar pukul 18.45 WIB, Novanto tiba di RS Medika Permata Hijau dan langsung dibawa ke kamar VIP 323 sesuai Surat Pengantar Rawat Inap yang dibuat Bimanesh. Ia kemudian memerintahkan perawat bernama Indri Astuti agar surat pengantar rawat inap yang dibuatnya dibuang dan diganti baru dengan surat pengantar dari Poli yang diisi oleh Bimanesh untuk pendaftaran pasien atas nama Setya Novanto di bagian administrasi rawat inap.
 
"Padahal, sore itu bukan jadwal praktik Bimanesh," tegas jaksa.
 
Atas perbuatannya, Bimanesh didakwa melanggar Pasal 21 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.




(FZN)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA