Empat Film Adaptasi Karya Pramoedya Ananta Toer Sebelum Bumi Manusia

Purba Wirastama    •    Selasa, 29 May 2018 11:00 WIB
film bumi manusia
Empat Film Adaptasi Karya Pramoedya Ananta Toer Sebelum Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer (Foto: Dok. Pribadi/Sewarga.com)

Jakarta: Proyek film Bumi Manusia dari Falcon Pictures bukanlah kali pertama karya tulisan Pramoedya Ananta Toer diadaptasi ke film. Sebelumnya, sudah ada sedikitnya empat film panjang era 1950-an yang dibuat berdasarkan cerita tulisannya. 

Akun Twitter @potretlawas - yang fokus pada narasi dokumentasi dan pengarsipan Indonesia di masa lalu - mengingatkan kembali riwayat ini pada akhir pekan lalu, menyusul pengumuman resmi dari Falcon tentang para pemain yang akan terlibat dalam film adaptasi terbaru garapan sutradara Hanung Bramantyo dan penulis naskah Salman Aristo.

Dilansir dari kicauan @potretlawas, ditambah catatan dari situs web Katalog Film Indonesia dan artikel arsip dari blog milik Bastian Hidayat. 

1. Rindu Damai (1955)

Digarap oleh penulis-sutradara Djoko Lelono di bawah label Anom Pictures dengan produser R Bahroen. Nama Pramoedya Ananta Toer dipasang di poster iklan sebagai salah satu materi utama promosi, tetapi judul karya aslinya tidak disebutkan. Para pemainnya yaitu Ellya Rosa, Amran S Mouna, Astaman, dan Sukarsih. Dalam iklan cetak lain, film ini diiklankan sebagai "Pramudya Ananta Tur Biggest Novel" dan "The Best Picture of the Year" tanpa penyebutan judul karya asli. 

Kisahnya bermula di rumah keluarga Rahim dan istrinya. Rahim kesal dan merasa tersiksa karena istrinya masih sering menerima teman-teman lama. Pada suatu pesta, Rahim kesal dan menembak seorang tamu karena berlama-lama dansa dengan istrinya. Rahim, istri, dan kedua anaknya lari demi menghindari kejaran polisi. 

Dalam pelarian, sang istri berusaha kabur tetapi tertangkap Rahim. Sebelum meninggal, sang istri meluapkan kekesalan kepada Rahim. Tak lama setelah kematian, Rahim menjenguk kedua anaknya di tempat ibunya, tetapi polisi muncul. Rahim lari tetapi tewas tertembak. 


2. Peristiwa Surabaja Gubeng (1956) 

Djoko Lelono kembali terlibat dalam proyek ini dan berbagi kursi penyutradaraan dengan Jusman dan Hasan Basry RM. Jusman juga bermain sebagai pendukung. Film diproduksi oleh Z Hanan di bawah label rumah produksinya sendiri. 

Ellya Rosa juga kembali terlibat sebagai aktris. Lalu ada Ali Sarosa, Aminah Banowati, Tan Tjeng Bok, Udjang, Ardi HS, dan Boes Boestami. Kisahnya diangkat dari cerita pendek Pram berjudul Gambir yang ditulis Mei 1953. Cerpen ini juga diterbitkan dalam buku Tjerita dari Djakarta: Sekumpulan Karikatur dengan Manusianja (1957).


3. Buruh Bengkel (1956)

Digarap oleh sutradara Awaludin dan penulis naskah Asrul Sani. Menurut Bahrum Rangkuti, naskah film ini berangkat dari buku Gulat Di Jakarta (1953). Meski begitu, nama Pram tidak dicantumkan dalam credit. 

Produksi dilakukan oleh Persari Film, salah satu perusahaan produksi tua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang. Para pemain yang terlibat antara lain Darussalam, Ermina Zaenah, Awaludin, Dhira Soehoed, A Hadi, Astaman, Djauhari Effendi, dan M Budhrasa. 

Kisah filmnya mengikuti pasangan suami-istri Salam dan Jaenah. Salam sering diomeli sang istri karena uang hasil jasa bengkel sepeda tidak cukup banyak. Suatu saat, seorang pencuri meninggalkan peti uang hasil curian di halaman rumah. Salam hendak mengembalikan peti tersebut kepada pemilik, tetapi ditentang keras Jaenah. Akhir cerita, peti tetap dikembalikan oleh Salam. 


4. Biola (1957)

Digarap oleh penulis-sutradara Waldemar Caerel Hunter alias S Waldy. Para pemain yang terlibat adalah Sofia WD, A Hamid Arief, Arfandi, Wahab Abdi, Piet Pello, WD Mochtar, Pala Manroe BA, Rr Sumiati, Entjen Fatimah, Ellya Chandra, Iskandar Muda, Maya Dewi, Dedeh Rosmawaty, dan F Harahap. Produksi dilakukna oleh Jajasan (Yayasan) Usaha Artis Film atau disingkat JUFA. 

Naskahnya diadaptasi dari cerita pendek Pram berjudul Anak Haram, yang terbit dalam buku Cerita dari Blora (1952). Biola berkisah tentang seorang bocah lelaki yang sangat tertekan, terutama karena orang-orang menyebutnya anak haram, yang lahir di luar pernikahan. Hanya sedikit orang yang masih menaruh perhatian kepadanya. Salah satunya adalah seorang guru di sekolah. 

 




(ASA)